Total Tayangan Halaman

Senin, 30 April 2012

Disorder ( pemberontak vs pecundang )

katakan pada bunda
kita sudah memulai peperangan ini
para pecundang menamakan dirinya pemberontak

angkat satu persatu pion caturmu
kemudian tempatkanlah perwiranya dalam bidak yg tepat

dan setelah itu kematian akan segera datang
tanpa ter-elak
mengikat jiwa yg satu ke yg lainnya

dan akhirnya yg tersisa hanyalah kenyataan benar yg pahit
atau sekilas manis yg membelenggumu dalam kesalahan

dan para pecundang pun berteriak
mengatas namakan dirinya pemberontak
kegilaan di atas ahlak so bijak
pecundang dan pemberontak terbahak

Wish the God never say good bye



 Kita hidup dalam kenyataan , bukan dalam imajinasi atau piktif fantasi , planning A sampai dengan Z pun malah kadang terbantah , yg tersisa adalah kata pasrah , karena sesungguhnya esok hari adalah misteri yg ga pernah bisa tertebak . aku kembali di kota ini bukan karena penilaianku tentang kota lain yg buruk , tetapi kenyataan , yg ga pernah berniat aku meninggalkan , aku ga mau lari dari kenyataan , segetir apa pun , karena yg ku tahu manusia hanya punya dua peluang , yakni seribu do’a atau seribu sumpah kecam orang lain.
Jangan pernah menggambarkan masa depan , terus melangkah itu lebih bijak , bawasannya dengan idealisme itu sendiri manusia malah akan merasakan takut pada jutaan hal . Hidup adalah seni , dan kepuasan itu ga akan pernah bisa di nilai dengan dengan uang . setiap manusia punya kisah , setiap kepala punya sejarah , aku bukanlah di antara mereka yg hidup di peradaban lama , yg punya pengharapan agar zaman kemudian selalu mengenangnya .
Kenyataan terkadang  pahit , ga seperti apa yang  kita bayangkan . jalan hidup ga pernah bisa di ukir , takdir itu milik Tuhan , dan semua berjalan , dan terus berjalan . hidup adalah kejujuran , bukan dusta dan dusta yg terus mengakar menjadi kebohongan nurani , lebih baik menyesal daripada seterusnya kebohongan itu malah menyiksa diri . Gelora muda , ini adalah rasa yg tercipta dari kolaborasi warna , dimana karya yg terlukis itu menyertakan tekhnik dalam mengafsir  atau pun bayangan . tebal dan tipis nya menjadi sebuah selera , kontras , skala , imajinasi , serta serentet total konsentrasi . sementara rasa demi rasa itu ga akan pernah padam , maka semampu ku ingin mencoba menebus mimpi .
Jika mereka bertanya tentang apa yg ku bisa , setidaknya aku akan menjawab bahwa aku mau belajar . setidaknya , kemumetan adalah jawaban dengan  versi yg kritis , padahal segala yg terjadi itu akan segera terkenang . yg baik terlupakan , dan yg bodoh selalu abadi .

Kisah si pria angin



Satu pagi , sebuah pijak terhempas setelah lompatnya dari pintu bus malam yg telah mengantarnya sampai di kota ini ( pria itu bernama Cece Zakariyah ) . yg tertatap di seberang jalan besar dua jalur itu adalah sebuah halte bus trans kota , dan sebuah pasar . gegap nafasnya di tarik , bermaksud mengembalikan lega , setelah perjalanan semalaman suntuk tanpa lelapan .
Pagar hijau nan panjang sebuah candi besar di belakangnya pun perlahan di tinggalkan , dia menyebrang , sang kawan yg telah di hubunginya  meminta dia menuju lampu merah perempatan di arah sebelah kanan . mereka berjumpa , sejenak bertegur sapa , lantas sang kawan segera memboncengnya menuju pulang ke rumah .
Sang kawan , lelaki berumur 29 tahun itu bernama Daud Fattah , seorang istri telah menakdirkan keberadaannya di kota ini , sahabat lama sewaktu dia masih berada di kota asalnya . dia bermaksud berlibur di kota ini dengan segenap penasarannya akan kota rantau sang sahabat .
Desa Madurejo , lantas di perempatan pasar Gendeng itu Fattah membelokan laju sepeda motornya menuju ke barat , ini dusun Gangsiran jelasnya .  terhentilah mereka di sebuah toko kelontong pinggir jalan , warung buah di sebelahnya , dan hamparan sawah di seberangnya . istri Fattah pun menyambut permai pertemuan , wanita yg di anugrahi fostur tubuh ga normal itu bernama Arum .
Hari pertama di kota itu di lewatinya dengan istirahat penuh , lelah menjadi alasan , karena sejujurnya bagi Cece perjalanan semalam adalah hal baru yg pernah dia rasakan .
Keesokan hari , kenyataan pun mulai bicara sejujurnya , sebagaimana segala kisah besar yg pernah keluar dari mulut Fattah via cellular itu semakin terkesan ironi . usaha laundry dan toko kelontong itu telah memaku mereka bertetap memperjuangkan keadaan , dari pada halnya segala kisah wisata dan keramaian yg sebenarnya memang ada di kota ini .
 Sendiri lagi2 dia sendiri , itu lebih baik karena dia ga bermaksud mengganggu aktifitas sahabatnya , Sebuah sepeda kumbang tua yg lapuk menganggur di kediaman Fattah Nampak memancing langkahnya untuk mengenal sekitar desa . pamit yg sedikit , lantas penasarannya yg kian mendengung-dengung telah menyalikan dia berkeliling sendiri . terpacu sudah si sepeda tua , ke utara , lurus dan dia mensketsa sebuah putaran mengeliling , hamparan sawah , pohon2 , sungai kecil di tepian jalan , sepeda2 lain yg berlalu lalang , ketiadaan angkutan umum seperti di kota asalnya , dan segala yg memang terasakan kala itu membuatnya ga ingin berhenti mendayuh cerita .
Senja mulai menepi , setelah seharian dia berkeliling mengitari desa . kembalilah dia di rumah sang kawan , walau pun di saat bersepeda tadi dia sempat beberapa kali bertanya pada penduduk tentang alamat dimana harus dia kembali .
Petang pun terlewat dan kini hari telah sedemikian gelap , desa ini terasa begitu sepi , karena halnya di tempat ini semua aktifitas benar2 di lakukan dari pagi yg buta , sehingga malam datang terasa lebih cepat . Fattah yg nampak lelah malam itu tertidur di saat dia dan Arum mulai menghabiskan menit dengan obrolan , ini obrolan pertama mereka setelah sekitar dua hari dia disini , lagi2 aktifitas yg menghalangi , untuk sekedar berdialog panjang lebar antara dia dengan mereka . perbandingan dan perbandingan antara tempat ini dan kota asalnya mulai terpapar . dan semua pertanyaan yg sebelumnya ada mulai hilang dari penasaran .
Dia  yg mengenal Fattah adalah seseorang yg Nampak sukses merantau dari kota asalnya , seseorang yg kadang bicara seolah keadaannya memang lebih dari yg sebenarnya terbayangkan , memang itu bukan alasan utama dia berlibur di tempat ini . fattah semakin lelap dalam keheningan , padahal kenyataan nya di tempat ini mereka adalah penghidup yg susah payah , yg bekerja memutar otak begitu impresif karena harus membiayai kehidupan orang tua nya di kota asal . ya , sertifikat rumah orang tua Fattah yg telah di gadaikan ke sebuah bank menjadi hutang yg harus di tanggung sekian tahun lamanya .
Semuanya ironi , Nampak ga ada satu alasan yg mengharuskan dia menertawai semua ini . hanya saja , seandainya sebuah cerita itu bisa apa adanya mungkin itu lebih bijak . dari pada halnya meninggikan diri dengan kepalsuan yg ga pernah ada sebenarnya .

Black Document



Lantas aku kian merasakan keasingan , mungkin itu keliru , tapi yg ku rasakan di tubuh ini ga ada satu mili pun spirit . jangan membahas tentang seni , apa yg bisa ku harapkan , seni itu menyedihkan . kenyataannya lukisan itu pun baru di hargai setelah senimannya mati .
Inspirasi , imajinasi , tolol , impian kosong , pembengong , dan manusia bego yg di bodohi otak kanannya . “ kerjakanlah sesuatu hal yg baik dan benar , anggap esok adalah kematian “ , maka seperti apa , orang gila itu hanya melakukan penantiannya di sebuah halte kumuh tanpa pernah tau akan kemana tujuannya .

Tempat yg aneh


Tempat yg aneh
Aku memang ga pamit , kehilangan , mereka , kecupan perawan , dan air yg setengah ada dalam gelasku sengaja ku abaikan . langit itu luas menghalang , hanya beberapa pohon tinggi , lenyap di ujung pandang . bukan maksudku melupakan , namun perbandingan , dimana garis2 awan itu lekas ku balikan , dan sisa2 perasaan ada itu ku hancurkan , tenggelam , dan semoga aku ga pernah lari dari asa ku , juga nafas2 hidupku .
Kupacu liar kehidupan , aku lepas dan melepaskan  , segala sesakan .
Di tempat ini , di tempat yg gersang nya terasa begitu panjang , di tempat yg sekalinya hujan berkesan tiada berperasaan .
Di tempat ini , di tempat yg jalan , jembat , pantai , dan seni nya teramaikan , pikuk menjadi alasan .
Di tempat ini , di seberang gunung di arah selatan , di pantai itu , ombak terasa begitu tinggi , menampar , dan pasir2 api memaksa ku terus membungkus kepala jua kaki .
Di tempat ini , tempat dimana orang2 rumah serasa ga berkawan , mengiring cacian , dan simbol2 mimik penuh cercaan .
Di tempat ini , di tempat yg pagi hari nya datang lebih awal , dan hangat kopinya ga semeriah kicauan alang di sisi padi yg berhijauan .