" kepergiannya yg sunyi , ga ada seorang pun yg melambaikan tangan dan berjanji kelak keadaan akan membaik sampai musim berganti "
Di tempat kami berada ga ada asal muasal semua bermula , pagar2 di sisi jalan itu sudah ada disana sekian lama dan ga ada yg mengingat awalnya , begitu pun pohon serta rerumputan yg tumbuh diseluruh penjuru pandangan mata .
Dan dia , adalah satu karakter yg pernah hadir di sebuah negeri pembodohan , di kepalanya ada sebuah dunia yg ga bisa kalian baca , dan dia tengah bicara kepada ku , bawasannya kami dan semua ini ada begitu saja , kemudian dia menambahkan ucap ,
" masa lalu adalah cerita yg ga perlu di putar ulang , karena mereka ga akan pernah kembali ".
Di suatu musimnya yg gegar , dia bersembunyi lebih kerap dari yg lain , mungkin paling kerap daripada yg lainnya . lalu dia akan begitu dalam bersembunyi , membawa semua rasa yg dia rasa dan menelannya sendiri . namun terkadang dia muncul ( hadir dengan senyum kebohongan ) , dan orang2 akan segera berlari darinya . berpasang mata itu membeliak , sepanjang hari agar ga ada satu pun yg terlewati .
Tidak , dia ga bersembunyi karena kejahatan dan kebencian kalian , tapi karena sikap dan pertanyaan2 malam yg sulit dia artikan . dan dia kembali terdiam dalam pencariannya .
Keahliannya bersembunyi , dimana pun dia berada , terlebih hanya aku yg berniat memahaminya , karena ga ada seorang pun saudaranya , kerabatnya , bahkan orang2 yg pernah mendekatinya . suatu ketika aku di ajak pindah ke dalam hidupnya , dalam waktu yg begitu galaw , begitu bising , dalam lembayung hitam yg menyedihkannya . dan aku melihat waktu kian bekerja di atas kulitnya . aku prcaya ( 2jari dsisi kepala ), bahwa kemudian akan datang giliran , dimana dia akan sepenuh hati memainkan perannya .
Sebuah sore , dia masih menjalankan kisah itu , sebentuk garis2 acak dimana setiap orang berdiri , di tempatkan sekenanya . hampir jatuh setiap kali , dan garis2 itu membentur ga teratur . dalam keadaan itu gelap gulita , arah bertumpuk dan saling menyesatkan .
Kupikir malam itu dia akan mati tenggelam di dalam tidurnya , ketika kemudian dia terjaga , dan dia ga menulis sebaik yg kaw kira . Di hadapan tubuhnya yg berdiri tegak , ga sekali pun ada kedipan mata , ingatan sekilas itulah tanda untukku , setelah masa2 yg begitu getir , dia telah menyiapkan saat nanti dengan sempurna , bukan semata agar penantiannya ga menguap percuma di udara .
Sudah , sudah ku katakan padanya , di sepanjang tidur dan mimpi2 yg ga pernah habis di petiknya , tentang ucap yg hendak kaw lontarkan itu , tapi dia masih berjalan dalam diamnya .