SENJA DI PELABUHAN KECIL ( chairil anwar )
ini kali tidak ada yg mencari cinta diantara gedung , rumah tua , pada cerita tiang jua kemali . kapal , perahu tiada berlalu ! menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut .
Gerimis mempercepat kelam . ada juga kelepak elang menyinggung muram , desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan . tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak .
Tiada lagi , aku sendiri . berjalan menyisir semenanjung , masih pengap haraf sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai ke empat , sedu penghabisan bisa terkedup .
Di dalam bahasa aku mengenalnya , dimana aku mulai merasakan ada pola keseimbangan . hijau , sejauh mataku memandang , sebuah tempat sejuk yg penuh dengan aroma dendam , dan kami tertawa menjadi diri sendiri .
Bagiku hilang bukan segalanya , senjaku tertutup pepohonan , juga awan mendung serta deras hujan yg tercurahkan .semoga malam dalam sendiriku dapat terbantahkan , seindah daun2 ceri yg berserakan .
Alamku yg permai , air yg melompat bersusulan , pernah ku buat sebuah karya untuknya . meski aku ga akan pernah tau seberapa rendah ia menilainya , sekembaliku bermimpi enam cerita dalam satu hari bersamanya .
Hijau , tempat penuh dendam .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar