Cuacaku mengharu biru ..
Entah mengapa kami masih bisa melihat sebentang cahya kilat , ini bukan makna tentang kegelapan , hanya sunyi di antara para nurani yg bertopeng . Asap serta debu yg melayang , sisa2 selembar kertas yg terbakar , bau hangus yg semerbak dan kami menatap'a , sebuah pesona , sebuah cahaya yg turun tegangan'a , dan semua terasa gelap .
Kami ga sedang merintih , mengadaptasikan novel yg melankolis ataw sebuah naskah berlinang air mati , ( DIAM KAW ! ) dan konflik itu kembali datang , tentang kami yg brtentangan , beratus episod pun ga akan mampu memprjelas'a .
Kami pulang bersama hidup dan kehidupan , kami mencoba membaca , satu demi satu , lembar demi lembar , dan kami menarik nafas aga' dalam , sebuah bahan untuk kami terdiam . Lelap , semua dosa dan dosa itu membalut kami , sebentuk jaringan yg saling mengikat erat , semakin pekat dan begitu terasa mengikat .
Gelap , sepenggal malam kami sendiri , menyembunyikan ucap dan rasa iri , hanya berteman sepi , bergejolak memporandakan benak yg tergenggam . Kemudian bertanya kami pada gemintang , kenapa dan mengapa , lantas beliaw menjawab tanpa ada jawaban . Begitu ego kah kami , begitu angkuh kah kami , begitu laknat kah kami , hingga beliaw menghadapkan kami pada usia ini .
Masihkah Kami harus menjumpai air mata , sedangkan kami sudah terlalu lama melupakan , bahkan terlalu jauh meninggalkan'a .
Entah mengapa kami masih bisa melihat sebentang cahya kilat , ini bukan makna tentang kegelapan , hanya sunyi di antara para nurani yg bertopeng . Asap serta debu yg melayang , sisa2 selembar kertas yg terbakar , bau hangus yg semerbak dan kami menatap'a , sebuah pesona , sebuah cahaya yg turun tegangan'a , dan semua terasa gelap .
Kami ga sedang merintih , mengadaptasikan novel yg melankolis ataw sebuah naskah berlinang air mati , ( DIAM KAW ! ) dan konflik itu kembali datang , tentang kami yg brtentangan , beratus episod pun ga akan mampu memprjelas'a .
Kami pulang bersama hidup dan kehidupan , kami mencoba membaca , satu demi satu , lembar demi lembar , dan kami menarik nafas aga' dalam , sebuah bahan untuk kami terdiam . Lelap , semua dosa dan dosa itu membalut kami , sebentuk jaringan yg saling mengikat erat , semakin pekat dan begitu terasa mengikat .
Gelap , sepenggal malam kami sendiri , menyembunyikan ucap dan rasa iri , hanya berteman sepi , bergejolak memporandakan benak yg tergenggam . Kemudian bertanya kami pada gemintang , kenapa dan mengapa , lantas beliaw menjawab tanpa ada jawaban . Begitu ego kah kami , begitu angkuh kah kami , begitu laknat kah kami , hingga beliaw menghadapkan kami pada usia ini .
Masihkah Kami harus menjumpai air mata , sedangkan kami sudah terlalu lama melupakan , bahkan terlalu jauh meninggalkan'a .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar