Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 Desember 2011

Buku tebal dan sebuah novel


Ini sebuah kisah di saat aku berfantasi begitu hebat  , sebuah malam yg kurasa sunyi , dia menemaniku , Dia bilang kecerdasan itu sebuah karunia , dan lebih indahnya lagi ketika kecerdasan itu dapat bermanfaat bagi orang lain , setidaknya mereka , orang2 yg kau cintai . aku pun ga menilai diriku cerdas atas ucapannya ( aku hanya seorang pemalas ) , ga ada alasan , sebuah sertifikat mungkin , apalagi ijazah , yg sebagaimana logisnya menjadi sebuah pembuktian tentang sebuah kecerdasan itu sendiri .
Kemudian dia bercerita , suatu ketika dia pernah berada di antara mereka , orang2 yg cerdas , sebuah kelas , dan sebuah lapangan , sementara itu pula dia berucap di tempat itu ga pernah di temuinya keindahan . yg hadir hanya serentetan kompetisi , yg memaksa benaknya melejit untuk berpikir tentang hal2 yg terkadang  irasional . semua masa lalu tegasnya , dia sedang mencoba menjadi dirinya sendiri , bukan semacam perintah , lingkungan , eksistensi atau konsep yg ikut2an .
Sambungnya , dia berkata ketika kecerdasan itu di manfaat kan untuk orang lain , resiko pun di pertaruhkan . impian , ambisi ,egoisme , idealisme , atau malah persepsi kebanyakan orang terhadap diri sendiri . dia memang lemah , tapi bersama kegilaannya nya terkadang dia Nampak tampil begitu kuat . dia aneh , begitu aneh , dia bukan orang baik , karena sekali pun dia mendapat komentar kalau dirinya baik , dia malah tertawa , lalu menangis dalam hatinya .
Dia tumbuh bersama sebuah buku tebal yg ga pernah di ketahui dari mana bermuasal , sebuah buku yg dalam penjelasannya berisi begitu banyak inspirasi . inspirasi tentang siang , tentang malam , tentang kecil , tentang besar , tentang perjalanan , pahit , gersang, luka , duka , inisiatif , kreativitas , monolog , dialog ,sebuah obsesi , kalkulasi , prosedur , skema , takdir , harapan , doa , kalah , harga diri , kehormatan , penghormatan , pendidikan, hukum , intelektual , iman , privasi , motivasi , persiapan , cinta  , masa lalu , sekarang , masa depan , dan semua hal yg nyatanya ada dan tercantum dalam buku tersebut .
Buku tebal ini ada , bahkan disaat pertama kalinya dia membuka mata di dunia ini , dia membacanya , ga sekedar membaca , tapi juga mencermati , ga satu pun halaman terlewat , atau malah di abaikannya . pada buku ini pula dia bertanya , dengan gaya-cara nya sendiri , ketika dunia kian hari mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan . dari buku ini dia belajar , dia memahami , dia berinspirasi , berimajinasi , meresapi , menilai , dan mempertimbangkan .
Buku tebal ini amat dia cintai , bahkan ketika buku ini sempat  rapuh terhakimi waktu , dia dan setengah kesadaran nya telah merelakan ambisi itu redup , dia membiarkan dirinya tertinggal waktu , dia merelakan  sekuat tabahnya , disaat dunia kian menertawakan tindak kebodohan . padahal dia sadar kalau reparasi ga akan pernah mengembalikan buku itu sesempurna sedia kala . ya , dia masih bersama buku itu  , ke ibaannya sungguh begitu sangat , dia ga beranjak , dia pun ga kunjung pergi . dia pikir buku ini terlalu istimewa untuk di tinggalkan .
Dalam perjalanannya bersama buku tebal ini , dia menemukan sebuah novel yg usang . sebuah novel yg telah menjadi sampah , dia ga merasakan iba pada novel ini , karena dalam pikirnya , hati novel yg suri ga perlu di kasihani . dia lekas membawanya , membawa bukan menyelamatkan , karena dia bukan seorang pahlawan . dia hanya tertarik untuk membaca , karena sebuah judul yg tampak aneh telah memikat instingnya dalam keingin tahuan .
Dia membaca novel ini , kata demi kata , kalimat demi kalimat , paragraph demi paragraph , halaman ke halaman , dan dari setiap sub fragmen ke sub fragmen selanjutnya . novel ini penuh dengan kebohongan ( pikirnya awal ) . lalu dia menemukan sebuah kalimat yg berucap bahwa kebohongan itu sah2 saja untuk sebuah kebaikan , dia kembali berpikir , kebaikan atau kebenaran , sementara kebohongan itu malah memicu persoalan baru , bukan sebenar2nya menyelesaikan masalah . jikalau kebohongan itu beralaskan dendam negatif, itu sebuah kebodohan besar , sementara kata2 puas itu ga pernah menghasilkan apa2 , ga menghasilkan dampak positif , atau serupa barang berharga yg mungkin berguna di suatu masa .
Dendam , dendam , dan dendam yg begitu membara , begitu menyiksanya amat ( itu yg terbaca ) , dan ketika itu dia ( sang pembaca ) malah berpersepsi sebuah dendam yg dibalas  dengan hal2 yg negative ga akan pernah menjumpai kata penutup , tapi sebaliknya jika dibalas dengan hal2 positif mungkin itu lebih bijak , karena perasaan bersalah serta penyesalan itu lebih menyedihkan daripada luka di sekujur badan .
Ya , dia bilang novel ini beralur mundur , karena saat dia membacanya dari awal yg di temuinya adalah akibat , lalu menuju ke sebab . buku ini Nampak semakin kotor , konotasi nya semakin ga jernih , terkadang banyak urutan waktu serta pejelasan yg semakin rancu . dan akhirnya akibat dari kebohongan di awal tadi telah menghadirkan sebuah  paragraph klimaks . sebuah urutan waktu , denotasi , penjabaran , peristiwa , maksud , alasan dan akar dari semua sub-sebab secara terperinci .
Dia hanya membaca , dia ga pernah berpikir jika novel ini malah menyalahkan semua yg tertulis sebelumnya , atau tidak , mungkin sebuah penantangan , ini tercermin dari sebuah kalimat yg menjelaskan sorot mata itu membeliak , seolah berteriak jika kalian ga pernah tau siapa aku . Novel ini kian menjelaskan , suatu sebab ketika sesosok malaikat itu malah menjerumuskan , jerumus ke sebuah jurang yg begitu dalam , hingga asa untuk kembali ke hulu  amat mustahil terpikirkan . sebab akibat pun terus tertumpah , saling menyalahkan tetapi memang ga ada satu pun yg berposisi benar .
Kisah novel ini tiba2 berhenti , halaman yg tersobek , tinta yg pudar , dan sebagian lembar terbakar menjadi alasan . hingga di halaman terakhir yg terbaca di novel ini , dia ga menjumpai sebuah diskusi mungkin , sebuah sketsa tentang solusi , atau semacam keajaiban . dia hanya berpikir jika baik atau buruknya kelanjutan novel  ini kembali kepada kualitas novel itu sendiri untuk mensolusikan segala problem , juga step2 dewasa dalam menyikapi sebuah dendam , toh baik atau pun buruk , hitam atau putih , semua di kembalikan . menjadi diri sendiri , bukan serupa sugesti , motivasi atau provokasi orang lain , namun di mulai dari hati .
Dia bilang di buku tebal kepunyaannya tertulis , hal baik itu ga harus di definisikan dengan sebuah kondisi , situasi , atau pun status , tetapi masa depan , dan pahit mungkin bisa di artikan sebagai proses . dia ga sedang berharap apa2 , dia hanya ingin semakin lupa dengan airmata . dia ga jua membandingkan novel itu dengan buku tebal kepunyaannya , hanya saja dia kadang berpikir , alangkah indah jika seandainya novel dan buku tebal itu bisa tertata harmonis dan dinamis menghiasi semraut di dalam kamarnya , karena novel adalah sebuah buku , tetapi buku belum tentu sebuah novel .

Gadis sepi dan ibu yg perkasa


Namaku Ismael Cooper  , usia ku 19 tahun , ya … aku ga sedang mengulas biografhi ku di sini . aku ingin bercerita , tentang sebuah cerita yg mungkin terpikir sepele , bahkan ga menyentuh sama sekali  , ( terserah kalian sajalah ) itu yg terpikir saat sang punya cerita mulai bernyali mengetik teks ini .
Awal cerita , dengan latar salah sebuah rumah sakit besar di daerah Jakarta selatan . tiga minggu sudah aku disini , satu ruang dengan tujuh ranjang untuk pasien , tembok putih , gorden hijaw , bla , bla dan bla . aku ga sakit , tapi aku sedang menunggu seseorang ( someone who I loved life and die ) .sebelah ranjang itu Nampak seorang gadis berusia 12 tahun , tiga bulan sudah dia berada dalam rangka opname . tapi apa , ku pikir dia bukan sakit tapi cacat .
Ini opname kedua ucapnya , karena sebelum ini dia pernah berada di Rumah sakit Gatot Subroto selama beberapa bulan untuk menjalani oprasi tulang belakang . tulang memang di tangani namun syaraf itu ga pernah kenal dengan kata bedah . dua kaki , utuh , namun setengah badannya kebawah sudah ga berfungsi . Yaps ,,,,, aku ga mau bahas soal itu semakin larut , itu sudah takdir , si gadis tergolek bukan menunggu kata sembuh , namun sebuah solusi bagaimana ia mandiri setelah ini .
Yg terlihat bersamanya seorang ibu , kurang lebih hampir menjelang usia kepala empat dan seorang anak lelakinya yg  duduk di kelas tiga SD . mereka datang di sore hari , tidur beralas tikar di lantai , menemani si gadis bermalam2an , dan pulang di pagi hari . seperti itu , hari berganti , dan semua terus berulang .
Langit gelap , seusai magrib menjelang isya , sebuah moment ketika aku hendak keluar dari ruang untuk sekedar mencari angin yg segar . di sebuah selasar belakang gedung rawat yg remang , sebuah panggilan memanahku , aku pun menghampiri , ternyata dia ( si ibu ) , walau seberkas gelap selimuti wajahnya yg berjilbab . ini bukan pertama kali aku bertemu dan bersenda guraw dengannya .
Dia tersenyum , dan beberapa dialog pun kian terpaparkan . sepi , ini sebuah tempat yg jarang orang2 berlalu lalang . dimulailah sebuah obrolan perkenalan yg Nampak privasi disini , “ suamiku wafat dua tahun yg lalu karena ter serang diare kronis “ , ucap si Ibu dengan haru’nya . “ padahal sebelum ini kehidupan ku terbilang mewah , suamiku seorang PNS , anak2ku tumbuh berkecukupan , semua memang ironi bila tersaksikan sekarang , di saat aku malah mulai seringnya menjual satu per satu harta bendaku di rumah “ , si ibu tersenyum getir dan seolah ga memberikan kesempatan padaku untuk berkata .
Aku terpaku ( dalam hatiku kosong , karena sekali pun aku di suruh bicara , aku malah ga tahu harus bicara apa ) , si ibu pun melanjutkan kata2nya , “ memang terlalu bodoh , di saat aku malah mengungkit cerita ini sama kamu , BOCAH ! , tapi ga apalah , biarkan saya bercerita , karena saya hanya ingin bercerita , bukan untuk mensharingkan sebuah solusi dengan kamu , sebab saya pikir saya berada disini pun adalah sebuah solusi yg saya terjemahkan nyata “ .
Ini bukan dongeng , tapi saya seperti ingin berbicara lebih , lebih dari obrolannya seorang ibu terhadap seorang bocah ingusan , he2 ( senyumnya yg begitu terlihat asing diantara ekspresi2 senyum manusia sewajarnya ) . sesosok suami , bukan kebutuhan materil , tapi juga psikologis dan sebuah hal yg lebih daripada  itu semua( kebutuhan seksual secara tidak llangsung ),  sementara dua tahun menahan rasa itu begitu menggerahkan . padahal aku bisa saja mendapatkannya , walau tanpa sebuah status pun , tanpa harus di ketahui anak2 apalagi sesosok suami ku ygmemang  sudah berbeda alamnya “.
Dia ( si ibu ) terdiam menundukan wajahnya , sementara aku semakin bingung untuk berkomentar apa . ya Tuhan , apakah sepantasnya share ini terjadi , padahal aku bukan siapa2 , bahkan aku ga tau karena aku belum pernah mengalaminya ( yg terpikir , semoga aku bisa menjadi pendengar yg baik malam ini ). “ tapi aku ga melakukannya , seyakinku , ( kebutuhan seksual yg ku inginkan ) , aku hanya berpikir jika Tuhan sedang mengujiku , menguji imanku “ , dia pun melanjutkan ucapannya gegas .
Aku masih terdiam , “ Hmmmp.. entah dengan siapa , maka aku pilih kamu untuk mendengarkan curhat ku ini , BOCAH ( berulang2 kali dia menyebutku bocah ) , bukan karena cintaku pada suami yg telah wafat , bukan juga tentang anak2 yg slalu ada di dalam pikiranku , ya kalau Cuma karena landasan itu sih aku ga pernah tau bisa sekuat ini atau ga , tapi karena Tuhan , sementara hidup ini kan ada aturan mainnya , bukan sembarang aturan tapi jua sebab akibat yg akan terjadi setelah itu semua “ .
“ Aku ingin dunia tetap percaya padaku , karena mengembalikan sebuah kepercayaan itu lebih sulit daripada sekedar mengejarnya . aku ga sedang mengobral surga ko’ , aku bukan  anak kemarin sore yg baru belajar mengaji . karena sekali pun aku bicara tentang surga , toh aku belum pernah kesana , jadi aku Cuma ingin bicara soal keyakinan . yg ku harap Cuma semampuku untuk selalu menjadi contoh yg baik buat anak2ku , itu aja ko’ ! “
Lenganku gemetar , si ibu kehabisan kata2 , sayang di tempat ini di larang merokok , padahal aku ingin sekali menghisap sebatang rokok agar aku punya inspirasi tentang kalimat apa yg hendaknya baik ku ucapkan .
“ ya sudahlah , setidaknya nafasku sedikit lega , anggap saja cerita tadi Cuma sekedar omong kosongnya si janda beranak dua yg stress “ , singkat katanya , senyum yg aneh lagi dan si ibu pun lantas bergegas meninggalkan ku . ini mencengangkan , ekspresi ku tadi begitu bodoh , lebih bodoh dari seseorang yg terdiam ga terajak bicara  saat sekumpulan rekan yg bersamanya berbincang masalah politik .
Aku ga tau , ga pernah tau , tapi seolah olah aku ga bisa  lupa dengan percakapan 90 banding 10 tadi .  aku paham bawasannya ga semua hal patut di fublish , sementara alasan dan pertanyaan kian bersenyawa menjadi sesuatu bahasan yg mengganjal  di dalam perasaan . ya setidaknya teks dari  cerita bodoh ini bisa tetap hidup di alamnya , di selembar  diari yg amat mengenaskan .

IlezRazputind

Seniman katro atau psikiater amatir ?



Entah apa yg mau saya tulis , namun saya pikir menulis lebih baik , disini  saya tidak perlu menentukan intonasi , saya tidak perlu menentukan komposisi , saya tidak perlu menyusun nada2 begitu teliti . saya bingung sedang menunggu apa , apa yg saya tunggu , saya juga ga tau apa yg sedang saya harapkan , mengharapkan yg ga pernah saya tau .
Seniman katro , atau psikiater  amatiran , saya ga pernah bisa memfrediksi sebuah keadaan , saya bukan peramal , yg pergi akan menangis , dan yg baik namun tercekik itu malah membahas surga . ya Tuhan , dosa apa , apakah ini sebuah dosa .
Bukankah kehidupan ini relatif , bahkan di saat kaw terduduk manis selalu ada resiko membayangi . dan semua kemungkinan bisa saja terjadi . apakah nafkah yg haram , sementara saya  malah menyalah2kan orang tua saya .
Ya , saya ga punya target , jadi saya akan biasa2 saja seperti orang bodoh yg ga paham jika seandainya saya telah gagal . waktu terus bergulir , sementara haruskah saya menyingkir , di saat dunia kian mencaci sebuah kejujuran .  cukuplah , ha3 , toh berpikir pun hanya membuat saya lelah . mungkin ini jelmaan ruang dan waktu yg bisa saya dongengkan kepada sisi lain saya .

Kata2 dari langit

Tanpa aku sadari , ternyata ada banyak hal yg memaksaku sibuk . aku bermain , bernyanyi , membaca , menonton , atau sekedar menghabiskan waktu saat menemani dia bercerita . aku hidup dalam lepas , dalam bebas , tanpa belenggu waktu , tanpa aturan hari , jam , menit dan setiap detik .
Aku ga sedang berperan sebagai seorang tokoh dalam sebuah cerpen , apalagi dia , setiap kali itu , dan setiap kali dia duduk di sebelahku . aku cukup terhibur , walau kadang banyak bahasa2nya yg menurutku ketinggian , sehingga berulang kali itu aku menjadi ga mengerti . dia tertawa , dia merenung , tapi dia ga pernah menangis , dia diam , dan terkadang berucap amat2 so bijak .
Di akhir cerita dia selalu bilang , jika dia ga sedang menggurui , atau malah menasehati . dia juga selalu bilang , jika menurutmu ada sepatah ucapku yg mungkin benar , anggap saja itu kata2 yg turun dari langit , agar kamu ga pernah menjadikan aku , atau pun seseorang sebagai tolak ukur .
Sesuatu yg di mulai dari hati itu lebih tegar , karena walau pun ada badai , seseorang itu akan siap dengan seribu jawaban , untuk membela diri . seperti yg dia bilang pula , masa depanku akan segera datang , masa depanku bermulai dari hari2 tolol yg sedang ku terjemahkan ini .

Awal yg baru


Dan disaat itu dia bertemu hidup , lewat serangkai risetnya terhadap batang2 rokok yg murah dan berasap Pahang , dia bilang ini sungguh bermakna . dia bukan seseorang yg pandai dalam bidang ilmu sosialogi , yg seketika itu pula dia dapat menjelaskan sebuah perilaku berdasarkan alasan sebab dan akibat .
Dia begitu congkah , dia bilang budi itu mengerikan , karena budi yg ga terbalas dengan benar kelak menjadi do’a yg salah , sementara kematian ga pernah dia coba jelaskan . dia hanya pernah mendengar cerita , bawasannya sakaratul maut , dan seseorang itu sebenar2nya menjerit , menjerit teramat keras bahkan merontah-rontah , tetapi ga ada satu pun manusia di sekeliling yg mampu mendengar .
Yapz , satu per satu sahabat pun menjadi sama , dan satu per satu sahabat pun telah berubah , ini hukum alam , teori keberuntungan , dimana hal tersebut tercipta saat peluang dan kesiapan di berkati Tuhan . sementara itu rumus kegagalan ga pernah terjabarkan , karena ga ada satu fakultas pun menurutnya yg memberikan materi tentang tata cara melawan depresi dari sebuah kegagalan .
Dia hanya si omong besar , manusia yg so berintelejensi tinggi , berpidato so tinggi , dan berorasi so mutahir , padahal parasit . kemudian dia sedang mencari sebuah titik pahit , lugasnya , segudang teori ga pernah menampar hati , maka dari itu dia membutuhkan praktik sebagai benalu .
Orang pintar , orang pandai , atau orang yg beruntung , lantas dia malah memilih kata gila setelah kata orangnya , itu karena dia berharap , dia akan mampu tuk selalu tersenyum , dan ingin terus tersenyum di dalam kehidupan yg begitu singkat ini .
Dia juga membantah provokasinya si tuan2 korea , yg berucap kalau hidup itu sebuah kesusahan , hidup itu kompetensi , dan hidup itu adalah kecarmukan belaka . itu Cuma ilmu membaca keadaan terapan dan dalih teori kebutuhan dari para pemimpin , para pemimpin yg egoismenya tinggi tapi ga pernah introfeksi dan extrofeksi . karena menurutnya hidup ini sebuah keindahan , hidup ini sebuah kemudahan , dan hidup ini sebuah pilihan .
Awal yg baru , kelahiran , masa depan , dia sedang memproses katat2 tersebut atas serentet fakta yg dia temukan . mencetak sebuah goal mungkin lebih mudah dari memenangkan pertandingan , dia belum berhenti , bahkan dia terus menghancurkan sanitasi badannya demi riset dan riset yg ga pernah di bayangkan kebanyakan orang . dia tersenyum , dia tertawa , dan dia menunggu .

...


Dunia ini seperti setetes embun di pagi hari , dan setelah kehidupan akan datang keabadian , laksana laut yg ga bertepi .logikanya manusia yg hidup ga ada yg kekal , namun yg mati ga pernah hidup kembali .
Pertanyaan besarnya yaitu keabadian seperti apa kelak setelah hidup , yg ada hanyalah gambaran dan hukum kontradiksi antara sekarang dan masa yg akan datang .
Apa sih yg salah  , panca indra , nurani , atau akal dan pikiran . sementara baru separuh perjalanan ini , sejuta pertanyaan terus datang bertubi-tubi .
Kenapa , mengapa , dan bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikannya . maka timbulah sebuah kesinambungan antara solusi yg tepat dengan hukum kontradiksi .
Pilihan yg Nampak Cuma dua , hitam dan putih , gelap atau terang , atau setan dan malaikat . misteri karma , kehidupan dengan banyak orang , banyak peristiwa , dan banyak kemungkinan .
Pertempuran hati antara nyali dan kepecundangan , ayolah ini mudah , seperti saat kau tengah berdiri , dank au di minta menggerakan selangkah kakimu tanpa ada aturan wajib , yg memaksa jua membelenggu .