Ini sebuah kisah di saat aku berfantasi begitu hebat , sebuah malam yg kurasa sunyi , dia menemaniku , Dia bilang kecerdasan itu sebuah karunia , dan lebih indahnya lagi ketika kecerdasan itu dapat bermanfaat bagi orang lain , setidaknya mereka , orang2 yg kau cintai . aku pun ga menilai diriku cerdas atas ucapannya ( aku hanya seorang pemalas ) , ga ada alasan , sebuah sertifikat mungkin , apalagi ijazah , yg sebagaimana logisnya menjadi sebuah pembuktian tentang sebuah kecerdasan itu sendiri .
Kemudian dia bercerita , suatu ketika dia pernah berada di antara mereka , orang2 yg cerdas , sebuah kelas , dan sebuah lapangan , sementara itu pula dia berucap di tempat itu ga pernah di temuinya keindahan . yg hadir hanya serentetan kompetisi , yg memaksa benaknya melejit untuk berpikir tentang hal2 yg terkadang irasional . semua masa lalu tegasnya , dia sedang mencoba menjadi dirinya sendiri , bukan semacam perintah , lingkungan , eksistensi atau konsep yg ikut2an .
Sambungnya , dia berkata ketika kecerdasan itu di manfaat kan untuk orang lain , resiko pun di pertaruhkan . impian , ambisi ,egoisme , idealisme , atau malah persepsi kebanyakan orang terhadap diri sendiri . dia memang lemah , tapi bersama kegilaannya nya terkadang dia Nampak tampil begitu kuat . dia aneh , begitu aneh , dia bukan orang baik , karena sekali pun dia mendapat komentar kalau dirinya baik , dia malah tertawa , lalu menangis dalam hatinya .
Dia tumbuh bersama sebuah buku tebal yg ga pernah di ketahui dari mana bermuasal , sebuah buku yg dalam penjelasannya berisi begitu banyak inspirasi . inspirasi tentang siang , tentang malam , tentang kecil , tentang besar , tentang perjalanan , pahit , gersang, luka , duka , inisiatif , kreativitas , monolog , dialog ,sebuah obsesi , kalkulasi , prosedur , skema , takdir , harapan , doa , kalah , harga diri , kehormatan , penghormatan , pendidikan, hukum , intelektual , iman , privasi , motivasi , persiapan , cinta , masa lalu , sekarang , masa depan , dan semua hal yg nyatanya ada dan tercantum dalam buku tersebut .
Buku tebal ini ada , bahkan disaat pertama kalinya dia membuka mata di dunia ini , dia membacanya , ga sekedar membaca , tapi juga mencermati , ga satu pun halaman terlewat , atau malah di abaikannya . pada buku ini pula dia bertanya , dengan gaya-cara nya sendiri , ketika dunia kian hari mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan . dari buku ini dia belajar , dia memahami , dia berinspirasi , berimajinasi , meresapi , menilai , dan mempertimbangkan .
Buku tebal ini amat dia cintai , bahkan ketika buku ini sempat rapuh terhakimi waktu , dia dan setengah kesadaran nya telah merelakan ambisi itu redup , dia membiarkan dirinya tertinggal waktu , dia merelakan sekuat tabahnya , disaat dunia kian menertawakan tindak kebodohan . padahal dia sadar kalau reparasi ga akan pernah mengembalikan buku itu sesempurna sedia kala . ya , dia masih bersama buku itu , ke ibaannya sungguh begitu sangat , dia ga beranjak , dia pun ga kunjung pergi . dia pikir buku ini terlalu istimewa untuk di tinggalkan .
Dalam perjalanannya bersama buku tebal ini , dia menemukan sebuah novel yg usang . sebuah novel yg telah menjadi sampah , dia ga merasakan iba pada novel ini , karena dalam pikirnya , hati novel yg suri ga perlu di kasihani . dia lekas membawanya , membawa bukan menyelamatkan , karena dia bukan seorang pahlawan . dia hanya tertarik untuk membaca , karena sebuah judul yg tampak aneh telah memikat instingnya dalam keingin tahuan .
Dia membaca novel ini , kata demi kata , kalimat demi kalimat , paragraph demi paragraph , halaman ke halaman , dan dari setiap sub fragmen ke sub fragmen selanjutnya . novel ini penuh dengan kebohongan ( pikirnya awal ) . lalu dia menemukan sebuah kalimat yg berucap bahwa kebohongan itu sah2 saja untuk sebuah kebaikan , dia kembali berpikir , kebaikan atau kebenaran , sementara kebohongan itu malah memicu persoalan baru , bukan sebenar2nya menyelesaikan masalah . jikalau kebohongan itu beralaskan dendam negatif, itu sebuah kebodohan besar , sementara kata2 puas itu ga pernah menghasilkan apa2 , ga menghasilkan dampak positif , atau serupa barang berharga yg mungkin berguna di suatu masa .
Dendam , dendam , dan dendam yg begitu membara , begitu menyiksanya amat ( itu yg terbaca ) , dan ketika itu dia ( sang pembaca ) malah berpersepsi sebuah dendam yg dibalas dengan hal2 yg negative ga akan pernah menjumpai kata penutup , tapi sebaliknya jika dibalas dengan hal2 positif mungkin itu lebih bijak , karena perasaan bersalah serta penyesalan itu lebih menyedihkan daripada luka di sekujur badan .
Ya , dia bilang novel ini beralur mundur , karena saat dia membacanya dari awal yg di temuinya adalah akibat , lalu menuju ke sebab . buku ini Nampak semakin kotor , konotasi nya semakin ga jernih , terkadang banyak urutan waktu serta pejelasan yg semakin rancu . dan akhirnya akibat dari kebohongan di awal tadi telah menghadirkan sebuah paragraph klimaks . sebuah urutan waktu , denotasi , penjabaran , peristiwa , maksud , alasan dan akar dari semua sub-sebab secara terperinci .
Dia hanya membaca , dia ga pernah berpikir jika novel ini malah menyalahkan semua yg tertulis sebelumnya , atau tidak , mungkin sebuah penantangan , ini tercermin dari sebuah kalimat yg menjelaskan sorot mata itu membeliak , seolah berteriak jika kalian ga pernah tau siapa aku . Novel ini kian menjelaskan , suatu sebab ketika sesosok malaikat itu malah menjerumuskan , jerumus ke sebuah jurang yg begitu dalam , hingga asa untuk kembali ke hulu amat mustahil terpikirkan . sebab akibat pun terus tertumpah , saling menyalahkan tetapi memang ga ada satu pun yg berposisi benar .
Kisah novel ini tiba2 berhenti , halaman yg tersobek , tinta yg pudar , dan sebagian lembar terbakar menjadi alasan . hingga di halaman terakhir yg terbaca di novel ini , dia ga menjumpai sebuah diskusi mungkin , sebuah sketsa tentang solusi , atau semacam keajaiban . dia hanya berpikir jika baik atau buruknya kelanjutan novel ini kembali kepada kualitas novel itu sendiri untuk mensolusikan segala problem , juga step2 dewasa dalam menyikapi sebuah dendam , toh baik atau pun buruk , hitam atau putih , semua di kembalikan . menjadi diri sendiri , bukan serupa sugesti , motivasi atau provokasi orang lain , namun di mulai dari hati .
Dia bilang di buku tebal kepunyaannya tertulis , hal baik itu ga harus di definisikan dengan sebuah kondisi , situasi , atau pun status , tetapi masa depan , dan pahit mungkin bisa di artikan sebagai proses . dia ga sedang berharap apa2 , dia hanya ingin semakin lupa dengan airmata . dia ga jua membandingkan novel itu dengan buku tebal kepunyaannya , hanya saja dia kadang berpikir , alangkah indah jika seandainya novel dan buku tebal itu bisa tertata harmonis dan dinamis menghiasi semraut di dalam kamarnya , karena novel adalah sebuah buku , tetapi buku belum tentu sebuah novel .