Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 Desember 2011

Gadis sepi dan ibu yg perkasa


Namaku Ismael Cooper  , usia ku 19 tahun , ya … aku ga sedang mengulas biografhi ku di sini . aku ingin bercerita , tentang sebuah cerita yg mungkin terpikir sepele , bahkan ga menyentuh sama sekali  , ( terserah kalian sajalah ) itu yg terpikir saat sang punya cerita mulai bernyali mengetik teks ini .
Awal cerita , dengan latar salah sebuah rumah sakit besar di daerah Jakarta selatan . tiga minggu sudah aku disini , satu ruang dengan tujuh ranjang untuk pasien , tembok putih , gorden hijaw , bla , bla dan bla . aku ga sakit , tapi aku sedang menunggu seseorang ( someone who I loved life and die ) .sebelah ranjang itu Nampak seorang gadis berusia 12 tahun , tiga bulan sudah dia berada dalam rangka opname . tapi apa , ku pikir dia bukan sakit tapi cacat .
Ini opname kedua ucapnya , karena sebelum ini dia pernah berada di Rumah sakit Gatot Subroto selama beberapa bulan untuk menjalani oprasi tulang belakang . tulang memang di tangani namun syaraf itu ga pernah kenal dengan kata bedah . dua kaki , utuh , namun setengah badannya kebawah sudah ga berfungsi . Yaps ,,,,, aku ga mau bahas soal itu semakin larut , itu sudah takdir , si gadis tergolek bukan menunggu kata sembuh , namun sebuah solusi bagaimana ia mandiri setelah ini .
Yg terlihat bersamanya seorang ibu , kurang lebih hampir menjelang usia kepala empat dan seorang anak lelakinya yg  duduk di kelas tiga SD . mereka datang di sore hari , tidur beralas tikar di lantai , menemani si gadis bermalam2an , dan pulang di pagi hari . seperti itu , hari berganti , dan semua terus berulang .
Langit gelap , seusai magrib menjelang isya , sebuah moment ketika aku hendak keluar dari ruang untuk sekedar mencari angin yg segar . di sebuah selasar belakang gedung rawat yg remang , sebuah panggilan memanahku , aku pun menghampiri , ternyata dia ( si ibu ) , walau seberkas gelap selimuti wajahnya yg berjilbab . ini bukan pertama kali aku bertemu dan bersenda guraw dengannya .
Dia tersenyum , dan beberapa dialog pun kian terpaparkan . sepi , ini sebuah tempat yg jarang orang2 berlalu lalang . dimulailah sebuah obrolan perkenalan yg Nampak privasi disini , “ suamiku wafat dua tahun yg lalu karena ter serang diare kronis “ , ucap si Ibu dengan haru’nya . “ padahal sebelum ini kehidupan ku terbilang mewah , suamiku seorang PNS , anak2ku tumbuh berkecukupan , semua memang ironi bila tersaksikan sekarang , di saat aku malah mulai seringnya menjual satu per satu harta bendaku di rumah “ , si ibu tersenyum getir dan seolah ga memberikan kesempatan padaku untuk berkata .
Aku terpaku ( dalam hatiku kosong , karena sekali pun aku di suruh bicara , aku malah ga tahu harus bicara apa ) , si ibu pun melanjutkan kata2nya , “ memang terlalu bodoh , di saat aku malah mengungkit cerita ini sama kamu , BOCAH ! , tapi ga apalah , biarkan saya bercerita , karena saya hanya ingin bercerita , bukan untuk mensharingkan sebuah solusi dengan kamu , sebab saya pikir saya berada disini pun adalah sebuah solusi yg saya terjemahkan nyata “ .
Ini bukan dongeng , tapi saya seperti ingin berbicara lebih , lebih dari obrolannya seorang ibu terhadap seorang bocah ingusan , he2 ( senyumnya yg begitu terlihat asing diantara ekspresi2 senyum manusia sewajarnya ) . sesosok suami , bukan kebutuhan materil , tapi juga psikologis dan sebuah hal yg lebih daripada  itu semua( kebutuhan seksual secara tidak llangsung ),  sementara dua tahun menahan rasa itu begitu menggerahkan . padahal aku bisa saja mendapatkannya , walau tanpa sebuah status pun , tanpa harus di ketahui anak2 apalagi sesosok suami ku ygmemang  sudah berbeda alamnya “.
Dia ( si ibu ) terdiam menundukan wajahnya , sementara aku semakin bingung untuk berkomentar apa . ya Tuhan , apakah sepantasnya share ini terjadi , padahal aku bukan siapa2 , bahkan aku ga tau karena aku belum pernah mengalaminya ( yg terpikir , semoga aku bisa menjadi pendengar yg baik malam ini ). “ tapi aku ga melakukannya , seyakinku , ( kebutuhan seksual yg ku inginkan ) , aku hanya berpikir jika Tuhan sedang mengujiku , menguji imanku “ , dia pun melanjutkan ucapannya gegas .
Aku masih terdiam , “ Hmmmp.. entah dengan siapa , maka aku pilih kamu untuk mendengarkan curhat ku ini , BOCAH ( berulang2 kali dia menyebutku bocah ) , bukan karena cintaku pada suami yg telah wafat , bukan juga tentang anak2 yg slalu ada di dalam pikiranku , ya kalau Cuma karena landasan itu sih aku ga pernah tau bisa sekuat ini atau ga , tapi karena Tuhan , sementara hidup ini kan ada aturan mainnya , bukan sembarang aturan tapi jua sebab akibat yg akan terjadi setelah itu semua “ .
“ Aku ingin dunia tetap percaya padaku , karena mengembalikan sebuah kepercayaan itu lebih sulit daripada sekedar mengejarnya . aku ga sedang mengobral surga ko’ , aku bukan  anak kemarin sore yg baru belajar mengaji . karena sekali pun aku bicara tentang surga , toh aku belum pernah kesana , jadi aku Cuma ingin bicara soal keyakinan . yg ku harap Cuma semampuku untuk selalu menjadi contoh yg baik buat anak2ku , itu aja ko’ ! “
Lenganku gemetar , si ibu kehabisan kata2 , sayang di tempat ini di larang merokok , padahal aku ingin sekali menghisap sebatang rokok agar aku punya inspirasi tentang kalimat apa yg hendaknya baik ku ucapkan .
“ ya sudahlah , setidaknya nafasku sedikit lega , anggap saja cerita tadi Cuma sekedar omong kosongnya si janda beranak dua yg stress “ , singkat katanya , senyum yg aneh lagi dan si ibu pun lantas bergegas meninggalkan ku . ini mencengangkan , ekspresi ku tadi begitu bodoh , lebih bodoh dari seseorang yg terdiam ga terajak bicara  saat sekumpulan rekan yg bersamanya berbincang masalah politik .
Aku ga tau , ga pernah tau , tapi seolah olah aku ga bisa  lupa dengan percakapan 90 banding 10 tadi .  aku paham bawasannya ga semua hal patut di fublish , sementara alasan dan pertanyaan kian bersenyawa menjadi sesuatu bahasan yg mengganjal  di dalam perasaan . ya setidaknya teks dari  cerita bodoh ini bisa tetap hidup di alamnya , di selembar  diari yg amat mengenaskan .

IlezRazputind

Tidak ada komentar: