Satu hari yg cerah , sebuah lorong sempit diantara dua
gedung yg berhimpit , ya ini gedung rawat
salah satu rumah sakit besar di kota ini . gemercik air dan tampias dari
mesin AC pada dinding gedung itu Nampak menakjubkan , padahal kemarau , tapi
aku merasa seperti berada di sebuah curug yg ga ada air terjunnya . Ya , malam ini dia bercerita lagi , secangkir
kopi hitam menemani kami berpanjang lebar .
Kemudian dia lanjut bercerita , sebuah gedung yg Nampak megah
memang , halamannya yg hijaw ,
pemandangan yg bersih , lantai dinding ,
dan semua sudut yg terlihat itu terpelihara , oia satu lagi , mobil-mobil yg
terparkir rapi itu mengesankan benak seakan tempat ini adalah tempat yg mewah .
tetapi visual itu menipu , dan keindahan itu telah berbohong .
Nyatanya , di setiap kamar di gedung ini penghuninya adalah
mereka , para jasad yg tergeletak , ku pikir mereka sedang berperang , atau
mungkin berperan , sebagai para penderita dari antonimnya kata sehat . dia ga
menetap di gedung itu , ungkapnya hanya sedang melakukan riset , bukan jua
tentang ilmu , materi atau tugas dari sang dosen , karena dia memang bukan
seorang mahasiswa , terlebih dia ga pernah punya cita2 untuk menjadi seorang
dokter .
Pintu ke tiga dari pojok , saat kau keluar dari pintu lift
maka ruangan itu berada di arah kananmu , sementara lantai berapa dan nama
gedung itu sendiri dia sembunyikan amat . sebuah ranjang , seorang gadis
tergolek lemah , dia menangis , padahal menurutnya wajah itu begitu manis ,
tapi si gadis malah memalingkan tatap , ketika dengan sesengajanya dia
menghampiri langkah sambil tersenyum .
Aneh , selimut belang hijau itu di tariknya , lalu gadis itu
membalikan badan seolah ga memberikan izin kepada dia untuk sekedar berdiri dan
tersenyum . si gadis sendiri ga ada yg menemani , dan dia malah menertawakan
gadis itu , si gadis mencuri tatap , lalu bertanya “ apa yg kamu tertawakan ?”
, dia berhenti tertawa dan menjawabnya dengan pertanyaan “ apa juga yg kamu
tangiskan ?“ .
Si gadis berhenti menangis ( sorot matanya begitu tajam ) ,
penuh dengan keanehan , dia berpikir jika gadis itu berucap lirih “ kamu tidak
merasakan apa yg aku rasakan “ , dia berucap sendu “ jika rasaku seperti kamu ,
maka tadi aku akan menangis juga , bukankah Tuhan itu adil , dimana ada
tangisan disitu pasti ada tertawaan , lagi pula manusia itu ada , dan keadaan
manusia itu adalah berbeda-beda “ .
Gadis itu termangu “ aku ga ngerti apa yg kamu ucapkan “ ,
dia pun kembali menjawab “ kamu juga ga
pernah tau tentang apa yg aku rasakan bukan ? ,dan kalau seperti itu , anggap
saja kita seri “ . si gadis tersenyum masih setengah berpikir .
Semua seperti di mulai dari awal , dia bertanya “ sakit apa
? “ , si gadis menggulung sedikit selimutnya tanpa berkata , dan yg terlihat
adalah sekujur lengan kanan yg membengkak , warnanya merah kebiruan , dia
berpikir itu serupa tumor , atau mungkin seperti kanker kulit , tapi ungkapnya
si gadis “ dokter pun belum bisa mendiagnosa penyakit apa ini ,padahal aku
tengah berada setahun disini “.
“ Seperti yg terlihat , ini menyakitkan , ini mengangguku
amat , padahal awalnya hanya memar biasa karena tersengat serangga kecil , semut
hitam “ , si gadis meneruskan penjelasannya . dia ga habis berpikir , sesuatu
yg Nampak ga logis , bahkan metode medis
yg terhitung satu tahun lamanya belum memberikan gadis itu walau sekedar janji kesembuhan .
Gadis itu , air matanya kembali tumpah , penyesalan , entah
, dia ga bisa menebak kepastian maksud dari tangis tersebut . si gadis pun
lekas bertanya “ apa yg kamu pikirkan ?” , dia menjawab “ kamu , seseorang yg
cantik dan berlengan lebih besar dari pada aku “ ( dia kembali tertawa ) . “
leluconmu seperti orang eropa , sungguh menakjubkan , tapi itu ga cukup berarti
untuk menaklukan hati ini “ , si gadis membalas ucap dan menatap begitu amat
sangat .
Dia bertanya “ apakah
aku pantas tau tentang siapa dirimu ? “ , gadis itu mempersilahkan dia duduk ,
sebuah bangku pelastik , dan gadis itu bercerita “ namaku Cut Evelin , semoga
dunia tidak menertawakan , inilah takdirku , cacat mungkin , takdir , sementara
takdir ga pernah memilih , dan ternyata kesalahan yg terpilh telah menjadi
takdirku . cinta itu kesedihan , cinta itu penyesalan , dan cinta itu adalah sebuah
dendam . keindahan , lalu semua berputar , tangis , luka , kemudian berpaling
bukan berarti aku lupa “.
“ Bohong , jika kamu belum pernah merasakan nya , sebuah
perasaan kecewa , amat sangat , bahkan di saat itu pula orang2 yg menyaksikanmu
terpikir amat keparat karena hanya berlaku diam ( mungkin itu karna mereka ga
pernah tau apa yg sebenarnya terjadi ) “.
“ Dia pergi , dia meninggalkanku , dia , seorang pria yg ku
kagumi , pria itu bernama Franz Tarmidzi , dan yg terpikir saat itu adalah sebuah dendam
, pembalasan , padahal aku ga pernah tau apa yg seharusnya aku lakuan untuk
membalas dendam tersebut . ini kian membingungkan bukan , ya , aku hanya
berpikir jika saat bersamanya dulu aku telah melakukan semua hal yg terbaik ,
terbaik untukku , dan ga pernah aku tau apa itu baik juga buat dirinya ( Franz
Tarmidzi ) . kesimpulan ku saat itu hanyalah aku ini benar , dan pria itu sebenar-benarnya
salah saat meninggalkanku “ .
“ semenjak itu semua persepsi ku berbalik , orang baik itu
tercekik , dan orang baik mendapat balasan baik adalah kesalahan besar .
setelah itu aku bertingkah seperti seekor burung yg baru saja lepas dari sebuah
sangkar emas yg memenjarakan ribuan tahun lamanya , brutal , not etika ,
jalanan , malam , dan kegelapan . aku berpikir semua pria itu laknat , kata2
bijaknya adalah kepalsuan belaka , dan saat itu pula aku berlampias dengan
menjahati mereka “ .
“ Dendamku kesumat , dan yg kusadari kini , bawasannya semua
itu ga berdampak positif sama sekali untuk diriku , aku khilaf , dan kenyataan
nya rasa puas itu ga pernah mengembalikan semua keindahan yg dulu pernah aku
miliki . “
“ Mungkin di antara mereka , pria2 yg telah ku kecewakan ,
yg pernah ku sakiti baik hati maupun perasaan , mungkin mereka saling menumpuk dendamnya kepadaku , kepada
diriku seorang , hingga akhirnya hal yg sepele telah membuat sekujur lenganku
seperti ini “ .
“ Tuhan itu maha bijaksana , Tuhan telah mendewasakan
segenap umat manusia atas metode teori dan praktik . sementara teori yg hadir kepadaku
hanya aku lalui begitu saja , tanpa aku pernah memahaminya , dan di saat itu lah metode praktik memaksaku
, segenap jawa ragaku untuk membongkar makna kehidupan ini seutuhnya “.
“ Orang baik akan dapat balasan baik , begitu juga
sebaliknya , dan diantara itu semua , di saat terjadinya pertikaian diri ,
sesungguhnya manusia selalu mempunyai pilihan , hitam putih , mudah sulit ,
kaya miskin , bahkan kaya yg miskin atau miskin yg kaya “ .
Cut Evelin , gadis itu berhenti bercerita , matanya berkaca2
. dia ( sahabatku ) hanya tersenyum , dia gegas berdiri , tanpa sepatah kata
dia pergi , dia menghilang di sebuah pintu tanpa ada kata pamit . dalam
kepergiannya dia merenungkan , tentang
semua cerita yg di sampaikan si gadis , dalam hatinya dia bertanya “ mengapa
manusia terkadang harus saling tidak merasakan sebuah hal yg sama ? “ , itu
mungkin karena manusia di ciptakan untuk saling menjaga .
Kopi yg tinggal hampasnya , malam yg larut , dan puntung yg kian
berserakan . dia pun meninggalkanku , mungkin sama halnya ketika dia
meninggalkan sang gadis , dia memang orang yg aneh , cerita yg aneh , dan
tingkah laku yg terkadang aneh pula .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar