Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 Desember 2011

Teori rumit akal yg sempit


Satu hari yg cerah , sebuah lorong sempit diantara dua gedung yg berhimpit , ya ini gedung rawat  salah satu rumah sakit besar di kota ini . gemercik air dan tampias dari mesin AC pada dinding gedung itu Nampak menakjubkan , padahal kemarau , tapi aku merasa seperti berada di sebuah curug yg ga ada air terjunnya .  Ya , malam ini dia bercerita lagi , secangkir kopi hitam menemani kami berpanjang lebar .

Kemudian dia lanjut bercerita , sebuah gedung yg Nampak megah memang , halamannya  yg hijaw , pemandangan yg bersih  , lantai dinding , dan semua sudut yg terlihat itu terpelihara , oia satu lagi , mobil-mobil yg terparkir rapi itu mengesankan benak seakan tempat ini adalah tempat yg mewah . tetapi visual itu menipu , dan keindahan itu telah berbohong .

Nyatanya , di setiap kamar di gedung ini penghuninya adalah mereka , para jasad yg tergeletak , ku pikir mereka sedang berperang , atau mungkin berperan , sebagai para penderita dari antonimnya kata sehat . dia ga menetap di gedung itu , ungkapnya hanya sedang melakukan riset , bukan jua tentang ilmu , materi atau tugas dari sang dosen , karena dia memang bukan seorang mahasiswa , terlebih dia ga pernah punya cita2 untuk menjadi seorang dokter .

Pintu ke tiga dari pojok , saat kau keluar dari pintu lift maka ruangan itu berada di arah kananmu , sementara lantai berapa dan nama gedung itu sendiri dia sembunyikan amat . sebuah ranjang , seorang gadis tergolek lemah , dia menangis , padahal menurutnya wajah itu begitu manis , tapi si gadis malah memalingkan tatap , ketika dengan sesengajanya dia menghampiri langkah sambil tersenyum .

Aneh , selimut belang hijau itu di tariknya , lalu gadis itu membalikan badan seolah ga memberikan izin kepada dia untuk sekedar berdiri dan tersenyum . si gadis sendiri ga ada yg menemani , dan dia malah menertawakan gadis itu , si gadis mencuri tatap , lalu bertanya “ apa yg kamu tertawakan ?” , dia berhenti tertawa dan menjawabnya dengan pertanyaan “ apa juga yg kamu tangiskan ?“ .

Si gadis berhenti menangis ( sorot matanya begitu tajam ) , penuh dengan keanehan , dia berpikir jika gadis itu berucap lirih “ kamu tidak merasakan apa yg aku rasakan “ , dia berucap sendu “ jika rasaku seperti kamu , maka tadi aku akan menangis juga , bukankah Tuhan itu adil , dimana ada tangisan disitu pasti ada tertawaan , lagi pula manusia itu ada , dan keadaan manusia itu adalah berbeda-beda “ .

Gadis itu termangu “ aku ga ngerti apa yg kamu ucapkan “ , dia pun kembali menjawab “  kamu juga ga pernah tau tentang apa yg aku rasakan bukan ? ,dan kalau seperti itu , anggap saja kita seri “ . si gadis tersenyum masih setengah berpikir .

Semua seperti di mulai dari awal , dia bertanya “ sakit apa ? “ , si gadis menggulung sedikit selimutnya tanpa berkata , dan yg terlihat adalah sekujur lengan kanan yg membengkak , warnanya merah kebiruan , dia berpikir itu serupa tumor , atau mungkin seperti kanker kulit , tapi ungkapnya si gadis “ dokter pun belum bisa mendiagnosa penyakit apa ini ,padahal aku tengah berada setahun disini “.

“ Seperti yg terlihat , ini menyakitkan , ini mengangguku amat , padahal awalnya hanya memar biasa karena tersengat serangga kecil , semut hitam “ , si gadis meneruskan penjelasannya . dia ga habis berpikir , sesuatu yg  Nampak ga logis , bahkan metode medis yg terhitung satu tahun lamanya belum memberikan  gadis itu walau sekedar janji kesembuhan .

Gadis itu , air matanya kembali tumpah , penyesalan , entah , dia ga bisa menebak kepastian maksud dari tangis tersebut . si gadis pun lekas bertanya “ apa yg kamu pikirkan ?” , dia menjawab “ kamu , seseorang yg cantik dan berlengan lebih besar dari pada aku “ ( dia kembali tertawa ) . “ leluconmu seperti orang eropa , sungguh menakjubkan , tapi itu ga cukup berarti untuk menaklukan hati ini “ , si gadis membalas ucap dan menatap begitu amat sangat .

Dia bertanya  “ apakah aku pantas tau tentang siapa dirimu ? “ , gadis itu mempersilahkan dia duduk , sebuah bangku pelastik , dan gadis itu bercerita “ namaku Cut Evelin , semoga dunia tidak menertawakan , inilah takdirku , cacat mungkin , takdir , sementara takdir ga pernah memilih , dan ternyata kesalahan yg terpilh telah menjadi takdirku . cinta itu kesedihan , cinta itu penyesalan , dan cinta itu adalah sebuah dendam . keindahan , lalu semua berputar , tangis , luka , kemudian berpaling bukan berarti aku lupa “.
“ Bohong , jika kamu belum pernah merasakan nya , sebuah perasaan kecewa , amat sangat , bahkan di saat itu pula orang2 yg menyaksikanmu terpikir amat keparat karena hanya berlaku diam ( mungkin itu karna mereka ga pernah tau apa yg sebenarnya terjadi ) “.

“ Dia pergi , dia meninggalkanku , dia , seorang pria yg ku kagumi , pria itu bernama Franz Tarmidzi ,  dan yg terpikir saat itu adalah sebuah dendam , pembalasan , padahal aku ga pernah tau apa yg seharusnya aku lakuan untuk membalas dendam tersebut . ini kian membingungkan bukan , ya , aku hanya berpikir jika saat bersamanya dulu aku telah melakukan semua hal yg terbaik , terbaik untukku , dan ga pernah aku tau apa itu baik juga buat dirinya ( Franz Tarmidzi ) . kesimpulan ku saat itu hanyalah aku ini benar , dan pria itu sebenar-benarnya salah saat meninggalkanku “ .

“ semenjak itu semua persepsi ku berbalik , orang baik itu tercekik , dan orang baik mendapat balasan baik adalah kesalahan besar . setelah itu aku bertingkah seperti seekor burung yg baru saja lepas dari sebuah sangkar emas yg memenjarakan ribuan tahun lamanya , brutal , not etika , jalanan , malam , dan kegelapan . aku berpikir semua pria itu laknat , kata2 bijaknya adalah kepalsuan belaka , dan saat itu pula aku berlampias dengan menjahati mereka “ .

“ Dendamku kesumat , dan yg kusadari kini , bawasannya semua itu ga berdampak positif sama sekali untuk diriku , aku khilaf , dan kenyataan nya rasa puas itu ga pernah mengembalikan semua keindahan yg dulu pernah aku miliki . “

“ Mungkin di antara mereka , pria2 yg telah ku kecewakan , yg pernah ku sakiti baik hati maupun perasaan , mungkin mereka  saling menumpuk dendamnya kepadaku , kepada diriku seorang , hingga akhirnya hal yg sepele telah membuat sekujur lenganku seperti ini “ .

“ Tuhan itu maha bijaksana , Tuhan telah mendewasakan segenap umat manusia atas metode teori dan praktik . sementara teori yg hadir kepadaku hanya aku lalui begitu saja , tanpa aku pernah memahaminya  , dan di saat itu lah metode praktik memaksaku , segenap jawa ragaku untuk membongkar makna kehidupan ini  seutuhnya “.

“ Orang baik akan dapat balasan baik , begitu juga sebaliknya , dan diantara itu semua , di saat terjadinya pertikaian diri , sesungguhnya manusia selalu mempunyai pilihan , hitam putih , mudah sulit , kaya miskin , bahkan kaya yg miskin atau miskin yg kaya “ .

Cut Evelin , gadis itu berhenti bercerita , matanya berkaca2 . dia ( sahabatku ) hanya tersenyum , dia gegas berdiri , tanpa sepatah kata dia pergi , dia menghilang di sebuah pintu tanpa ada kata pamit . dalam kepergiannya dia merenungkan  , tentang semua cerita yg di sampaikan si gadis , dalam hatinya dia bertanya “ mengapa manusia terkadang harus saling tidak merasakan sebuah hal yg sama ? “ , itu mungkin karena manusia di ciptakan untuk saling menjaga .

Kopi yg tinggal hampasnya , malam yg larut , dan puntung yg kian berserakan . dia pun meninggalkanku , mungkin sama halnya ketika dia meninggalkan sang gadis , dia memang orang yg aneh , cerita yg aneh , dan tingkah laku yg terkadang aneh pula .

Tidak ada komentar: