Total Tayangan Halaman

Kamis, 21 Juni 2012

The searcher days


There are price any goods
While money can ' t buy time
Life is so absurd
Then, what is real we looking for?

Yesterday
A wise man said do not see her
And began to all again

Considering mother when i want to existing foods,
in the jaws to the son food that will in puking right I don ' t want to see him cry
I will befriend my days
Dry rain and uneasiness
Just me with god

Rabu, 20 Juni 2012

Better still

This world really mortal
Sometimes all as easy
But sometimes all suddenly be intricate

If not know anything
Better still
Because in his sea in can possibly guess
But the heart of man who knows

Can you one of many parts of the body
give me a better life
From when i use of it all
I rather like slaves so right in and become stupid

I also do not look back
I want this done
But how
While not all i can certainly right.

Selasa, 19 Juni 2012

Econosentrisme no art it!


I was suspected that mature comes in the form of a process, but not. Adult it came to me like when i wake up from sleep tight so long.
When i started writing all this i felt that i was the most desperate on earth. In fact writing is just activities that capable of i do in this time in the unemployed i have so long.
In a word, i find reading indeed, ordinary but according to my vision sense print in italics the word. Yes, econosentrisme noise- then what the word and its relations with me? ?
As heating little i got born in a village in which begin on ravenously its meaning by drafts drama systems. Every child who finished school here majority direct dabbles in the factory.
Moreover if i read their mindset that as if to say that work is factory workers and labor the plant is the only purpose.
Indeed, real once in an appeal myself they can delusional as high as heaven within the ocean.
Profession alias work can in meaning right, binding something enchained time and deprive of beauty. No wonder if a lot of parents here already the earthy but never know the identities truth.
And after that they can only eventuaily  comment a , b, c , and d, while they alone can never embosom. They know, life in a narrative where when young busy overtime and when retiring be money hundred million.
Then what the meaning of life, this alone humans are, as if is not hypocritical also, because of prevailing teksis in this world is segala-gala need money. And here is a contradiction i started thinking was for the
Human not angels , and if stomach  never hungry , may not never was econosentrisme. A friend once told me when i tell you all this trouble numskull then answered frlend � � � as this is life! ! � � �,
And once it anyway i have denied an argument i think most wise. How not because when my friend said this he is more human despond from within me.
Whether the process of working in my life is like what, name--although i have ten thousand times innovating new prayer i climb right. And when you started reading this ridiculous in the text maybe suicide, writer is dead or perhaps also yet, any chance he still alive, and still writing in a room untidy, to circumstances asylum. Ha3,

If the morning comes

here I'm standing
with lonellies of night
deep I was sleep
waiting my day to be comes

a lights of little stars
ray to show me up alone
tears I was escape
morning that I wish

I try to walk
but I don't know where The way
I stil here wait again
wings on the my dream

I will fly into the sky
when the sunrise from the east
I will fly into the sky
when the morning come to me

No matter


You may say to me if I was week
You may say to me if I was trashy
You may say to me if I was useless
You may say to me if I was loser

You may say to me if I was abject
You may say to me if I was lowly
You may say to me if I was rest
You may say to me if I was tiana

No matter , no matter , no matter
Scream ..

Truly you never knew who I’m
You never knew about my think
You could only laugh and cryin
And you’ll never had the beauty

Truly you’re slave on industry system
You only born , school , work , and die
You’ll never know about beauty
You’ll never know the identity

The days will it come true,
I’m falling dawn , not mean I’m surrender ..

Give me the light


Here
In the quiet of this
Speechless, I try joy the time
And all that has happened

Rumble of worry
Injuries continue to make me sick
The heart is getting fucked
And smile set from my face

I was borring
Everyone talk about black and white
Which I never understand

The days full of hate
When it all comes to the end ?
Give me the light ..

Minggu, 17 Juni 2012

Nisan seorang seniman


Nisan seorang seniman



Aku melukis tidak dengan cat
Aku melukis hanya dengan kata ..

Tuhan ..
aku seperti batang ubi jalar yg jatuh di atas aspal
kemudian terik
dan sorot mata sang panglima siang
mengeringkan aku

kerontang ..
tanpa tunas
bahkan tanpa bulu bulu akar yg terlihat tumbuh

tapi ya sudahlah ..
mungkin esok akan ku katakan pada wanitaku
jika dia sudah ku bunuh dengan tangan ini,

dia..
yg menurut mulut besarnya seolah bersayap ..

What is God ?

Since the age of four , my mother told me to read and learning bible . I got to know about sin , reward , unclean , and lawfull .
when my age in seven years , mom hit me with a broom if I could not go to mosque for read . my mother just said " if not continance later go to hell is ! "
actually I really want to question what is the hell ? what is the heaven ? what is after life ?
but I understand , the question will not capable of being in charge by my mother .
when my age in nine years , I know friday prayers . until this time , early begain sermon , khatib always say " let us gratefull for over all scrumptious in give God the !! "
and then when I write the notes , I had never felt studiousness of God . drunker and girl prostitute who forgetten God , they still breathing free . all the same , then why as no different .
and yesterday , when I well-intentioned to change my life become more , enter I drop up , go down .
I still remember , I prey to The God , but turn of to be , I think I like stupid boy .
as like the succes man said on television , if you want to succes , you must workhard . and then succes is by ourselves , not for God . kinds is we , we is the God .

tubuhku kotor ,
pikiranku picik ,
ahlakku nista ,
dan mulutku dusta ,
sungguh aku memang manusia berdosa ..

Diwajahku ada namamu





dia bukan kutu
yg merajai keraton kutu dikepalaku
dia sudah lari dari sana
karena bosannya
karena bodohnya

kini dia malah berada dalam sangkar gajah
kandangnya mamalia raksasa
sedikit lengah
mungkin dia akan mati sudah

dia selalu berlari
bahkan diwaktu tidurnya
agar tidak terinjak
namun ancaman tidak membuatnya beranjak

menatap keatas
kaki besar
tubuh besar
dan kepala besar

dia merasa begitu kecilnya
terbanding singgasana di keratonnya dulu

Kamis, 14 Juni 2012

Celeng kerempeng



Burung wik wik bersyair , suaranya terasa mengganggu , arahnya dari sebelah utara . Amir kerempeng duduk di sebuah bale bambu di halaman rumahnya . matanya menyala , di seberang jalan itu lapangan sepak bola hijau teramati .
Amir tidak bersuara , tidak bersuara bukan berarti hatinya diam . tangan itu mengebuk gebuk alas bambu . nada nya berdetak mengiringi detakan jantungnya .
“ duk tak duk tak duk tak duk tak “ bunyi itu menemani Amir yg duduk sendiri .
Terkadang ketukan dan temponya berubah , seperti hati kecilnya yg tidak pernah seorang pun bisa menebak . Beberapa bocah seumur melewati jalan kecil di muka Amir .
“ hey pincang .. sedang apa kamu ?? dasar tukang melamun .. hahahaha .. “  satu di antara bocah bocah yg berjalan itu meneriaki Amir .
“ panggil bapakmu , teriak .. bilang  jika mau buang air kecil .. biar sekalian bapakmu yg memegangi penismu … “ satu bocah lagi di antaranya meledek Amir kerempeng .
Amir hanya diam , dia tidak mengomel , tetapi hati kecil nya sungguh sudah terbakar amarah . sambil tertawa puas , rombongan bocah bocah seumur itu hilang dari pandangan .
Airmata membayangi kelopak mata . tetapi Amir tidak menangis . Amir mungkin sudah terbiasa di ejek , terejek , dan dijadikan bahan ejekan . Amir sedih sekali , Amir masih diam , tetapi yg bisa menggerutu Cuma hatinya .
***
“ terserah Tuhan mau menjadikan saya apa .. terserah Tuhan mau membawa saya kemana .. “
Ungkapan pasrah tersebut sudah tercurah ribuan kali , amir mencoba menegarkan dirinya . ketidak berdayaan serta aniaya psikologis mendasari ungkapan tersebut .
“ salahkah saya , teledorkah saya .. bukankah sepele bagimu Tuhan ??? “
Penyesalan demi penyesalan yg tumpah sudah tidak bisa lagi di hitung tiap harinya . tetapi Tuhan masih memberikannya hidup , entah mengapa , semoga Tuhan punya maksud baik .
***
Masih di bale bambu di halaman rumahnya . sore menjelang , satu persatu bocah dari penjuru kampung mulai berdatangan . mereka mulai sibuk mencari tempat di lapangan .
Sepak bola , dahulu memang , namun tidak lagi sekarang untuk amir . mungkin dahulu pun tidak serapat hari amir bermain , kadang kadang amir menghilang . di saat teman temannya mencari , Amir tidak pernah di ketemukan .
Amir yg pandai menggocek dan menendang kencang sekarang tinggal kenangan . sekarang dia hanya mampu menonton dari bale bambu di halaman rumahnya .
Seorang sahabat berlari menuju Amir , sumringah raut wajahnya . Edi , si bocah keling berkepala botak berhias pitak itu sahabat Amir yg paling dekat . dulu semasih main bersama , saling over dan mengumpan hingga akhirnya mencetak gol adalah mereka .
“ nanti kalau sudah sembuh , kita main sama sama lagi ya .. saya rindu di beri umpan sundul oleh kamu Mir .. “ Edi berkata , kedua tangan nya membejak bejak baju leceknya di bagian perut .
Amir hanya tersenyum , seakan dia sudah melupakan kejadian sebelumnya disaat beberapa bocah mengejek .
“ semangat , kamu pasti akan sembuh .. mungkin suatu saat nanti kamu bisa menjadi pemain sepak bola yg amat terkenal Mir , kamu kan jago sekali mainnya  .. “ Edi berucap sekali lagi .
“ saya tidak mau bermimpi .. saya seperti ini karena mimpi .. mimpi itu pembodohan .. saya tidak akan menjadi seseorang seperti apa yg kamu bilang barusan .. “
“ tapi Mir .. “ belum habis terucap Amir kembali memotong .
“ sudahlah  jangan meng-intimidasi saya dengan harapan kosong .. saya ini cacat .. sudah tiga tahun , tetapi kaki ini malah membusuk .. “ nadanya meninggi , semua berubah seketika , raut wajah , sorot mata , dan expresinya .
Dengan sepasang tongkatnya Amir tertatih menuju rumah . Edi termangu , dan suara burung wik wik itu hilang di sebelah utara .
***
Amir si penyadap getah aren . bocah berambut keriting berkulit gelap itu tengah berada di atas pohon aren . suatu sore , dikebun yg tidak jauh dari belakang rumahnya .
Tangan tangan kecil itu mencengkeram erat batang , kakinya tertatih tatih menyorong badan menuju ke ujung pohon . dia tiba di atas , keringatnya menetes , kulit hitam menjadi kelihatan bercahaya tersorot sinar matahari yg bulatnya sudah tidak utuh dari sebelah barat .
Seperti yg terbiasa dia lakukan , satu dari tiga buah botol pelastik yg tercantum di pinggang nya telah berpindah , di sela batang  daun menadahi tetes demi tetes getah yg tercurah .
Getah menetes , keringatnya banjir . mungkin kini keleknya sudah basah total . si Amir berpikir , “ jika nanti botol botol ini  sudah penuh , aku akan menjual getah sadapan pada tengkulak untuk mendapatkan upah “ .
Amir tersenyum , gigi serinya yg tanggal memberi peluang udara menggenangi rahang . dia masih berada di atas pohon aren tersebut .
Kakinya tidak gemetar menopang , Amir seolah sudah terlatih . “ jika nanti saya dapat upah , akan saya gunakan untuk apa ? “ didalam hati amir kecil timbul pertanyaan .
“ nah , saya mau beli sepasang ayam saja , mungkin cukup .. “ pikirnya menjawab .
“ nanti  sepasang ayam itu akan menghasilkan telur , saya akan menetaskannya .. biar ayam saya menjadi banyak .. “
“ kalau sudah banyak , saya akan membawa ayam ayam itu kepasar .. pasti akan laku terjual .. “ matanya membesar , barisan gigi gigi itu masih dalam intonasi senyuman .
“ dan kalau saya mendapat uang yg agak banyak dari hasil menjual ayam ayam saya tadi , saya mau membeli kambing saja .. saya akan menternaknya .. “
“ kambing kambing itu pasti bakal banyak pula seperti semula saya menetaskan telur telur ayam .. setelah itu saya mau membeli sapi saja .. mungkin harga jualnya akan lebih tinggi dan saya akan memperoleh keuntungan yg besar juga .. “
“ saya kepingin sekali membantu bapak , saya kasihan melihatnya , setiap hari berjibaku dengan palu besar penghantam batu gunung , tetapi upahnya tidak seberapa “
Angin yg membelai leher terabaikan , Amir masih di dalam penantian . saking asiknya Amir menggembalakan khayalannya , dia tidak sadar jika botol yg menadahi tetes getah aren itu sudah luber tercecer .
Beberapa tetes getah menciprati lutut Amir , bangunkan Amir dari lamunannya . belum seutuhnya dia sadar , botol yg luber itu terjatuh dari pangkalan sadap . reflek , tangan kecil mencoba meraihnya . namun apa daya , botol tidak terjangkau , dan si bocah kriting itu serempak ikut jatuh .
Kepala dan kakinya mendarat di atas batu yg bersemayam nyenyak di bawah pohon aren . darah tumpah dijidat , merah di atas palataran kulit hitam .
Amir meraung kesakitan , beberpa warga yg mendengarnya di sekitar menghampiri . si amir di bawa ke klinik darurat di ujung desa pencilnya .
“ tulang kaki nya patah .. mungkin harus di operasi .. “ ungkap sang dokter jaga klinik tersebut kepada orang tua Amir .

Selasa, 12 Juni 2012

Intro

Intro
Menyelunduplah segaris cahaya dari sebuah lubang di gorden jendela kamarku yg rombeng , aku terbangun dari tidur ,   segaris cahaya tersebut tepat mendarat di atas wajah . ternyata hari sudah pagi ,   bahkan menjelang siang . bergegas aku keluar  ,  dari kamarku yg begitu pengap , ku tenggak dua gelas air putih dingin seperti kebiasaanku setiap bangun tidur , kemudian   aku menyalakan sebatang rokok dan masuk ke kamar mandi . ya , sejujurnya setiap kali aku masuk di dalam kamar mandi itu , aku tidak langsung mandi , tetapi terlebih dahulu , aku nongkrong di atas wc sambil melamun ke utara dan selatan , sampai sebatang rokok terhisap habis di tangan  .

Di dalam lamunan ku kali ini   ,   aku teringat tentang masa2 di sekolah dulu , hidup lepas , bebas , tanpa beban keuangan yg ini dan itu , walau    di setiap akhir bulannya aku ga pernah menerima gaji sepeser pun , ya maklum lah pada saat itu nyatanya aku memang belum produktif , sehingga semua kebutuhanku masih di tanggung oleh orang tua . pemikiran tersebut sangat berlawanan sekali dengan saat ini , di saat aku sudah ga bersekolah lagi , dan kian hari , aku mulai merasakan setiap sorot mata yg tertuju pada ku itu berbunyi , “ Independent , Independent , dan Independent ” .

Apalagi    di masa2 itu pula aku men-deal’kan sebuah pertaruhan konyol ,  bersama dua orang sahabatku Restu bin Abimail dan Edo Zulfikar yg berbunyi “ siapakah di antara kita bertiga yg bakal punya mobil duluan “ . huh , betul kalau SID bilang musuh-sahabat , karena kenyataannya sahabat terdekat adalah musuh berat yg seutuhnya nyata di dalam kompetisi hidup .   perbedaan itu nyata selalu hidup , dan perbedaan bukan di per’untukan sebagai alasan bermusuh musuhan , tetapi agar kita senantiasa belajar , dari segala rumus perbandingan .

Sekilas tentang diriku , sejujurnya aku benci melihat foto2ku sendiri , tinggi kurus dengan kepala yg menurut ku kebesaran , hah I hate it , aku menilai itu ga balance . tapi ya sudahlah , mau benci sebenci apa pun toh ini mungkin karya Tuhan yg bukannya ga indah , tapi menakjubkan . ha2