U
, Ce , dan eR
Ini
bukan sebuah rekayasa hiperbola
Terserah
kau mau menilaiku apa
Suatu
hari itu
Dikala
aku sedang menanti rasaku
Aku
malah di pertemukan dengan sebuah mimpi
Yg
datang seperti kilat di saat siang gersang tanpa setitik awan gelap
Lantas
aku mencobanya
Walau
pun kabar terlambat yg datang padaku
Semakin
membuat akalku semakin keliru
Aku
di hadapkan pada sebuah kebimbangan
Dimana
aku masih bertahan atas apa yg tidak ku ingini
Namun
akhirnya di hari ketiga
Sehelai
sampah di hadapan seseorang yg mereka sebut Tuan
Malah
membuat jiwa dalamku berkata tidak
Lantas
setelah itu
Jiwa
menyetir langkahku berpaling
Dari
sebuah tempat yg mereka yakini bijak
Dan
ketololan pun semakin tampak meradang
Membelenggu
akalku
Mencekik
batinku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar