Total Tayangan Halaman

Senin, 11 Juni 2012

overa kera


semusim galau melanda jiwa , malam itu sebuah artikel elektronik yg berjudul overa kera ku baca . kisahnya bercerita tentang seekor kera purba bernama Amrul yg hidup jutaan tahun lalu .
Amrul adalah sebangsa kera yg berjalan tegak di awal masa . dia tingal di belantara hutan yg begitu dalam dan tak pernah di ketahui dimana keberadaannya . selain Amrul , banyak lagi kera2 purba sebangsanya yg tinggal di hutan tersebut .
Hutan itu di anugerahi sebuah sumber mata air yg tidak pernah mengering sepanjang musim . ini kisah pada zaman dahulu kala , karena sekarang didalam peta hutan tersebut mugkin saja sudah berubah menjadi lautan .
Dengan sumber mata air tadi , kebutuhan konsumsi sebangsa Amrul terpenuhi bahkan tercukupi . pohon2 tumbuh subur dan meneduhkan , serta hewan2 yg bisa di jadikan santapan sedia berada .
Amrul tumbuh beriring nikmat dengan penuh riang . tetapi sebangsa Amrul tetaplah sebatas kera purba yg tidak di berikan Tuhan akal serta pikiran . Tuhan menciptakan Amrul dan sebangsanya , sementara mereka tidak pernah sedikit pun berpikir tentang halnya pencipta dan yg di ciptakan . alam di abaikan , kurang lebih di gambarkan jika mereka Cuma menjalani kehidupan untuk makan .
Sebagaimana yg kita semua ketahui , Amrul dan sebangsa keranya tidak luput dari rasa lapar serta birahi . insting hewan kian menjadi , mereka merusak alam , bahkan tidak jarang mereka saling membunuh ( walau masih dalam sebangsanya ) demi memperebutkan makanan .
Tatkala suatu hari di saat Amrul beranjak dewasa , secara tiba2 Amrul mendapati ibunya sudah tidak bernyawa di antara riuhnya semak belukar yg bersimbah darah . tidak jauh dari tatapnya terlihat beberapa ekor kera purba tengah asik berpesta pora melahap sekijang buruan .
Amrul seraya tidak kuasa menahan luap emosinya . secara membabi buta Amrul menyerang kawanan kera purba yg di tudingnya telah menghilangkan nyawa sang ibu . perkelahian hebat tidak terelak , Amrul yg hanya seorang diri di ceritakan berhasil membalaskan  nyawa dengan nyawa . usai tegasnya menatap lawan2 meregang nyawa , Amrul berteriak begitu keras , saking kerasnya sampai terdengar keseluruh penjuru hutan .
Perlahan , satu per satu kera purba sebangsanya berdatangan , dan mereka menyaksikan peristiwa yg begitu luar biasa sudah terjadi . setelah itu Amrul menjadi seekor kera purba yg paling amat di takuti . semua kera purba di hutan tersebut tunduk , dan Amrul semakin berkuasa dalam kisahnya .
Dendam yg sudah lunas terbayar belum menyudahi lakon kejam tindakan Amrul .  karena merasa berkuasa tingkahnya semakin menjadi2 , lagi dan lagi Amrul membunuh sebangsanya untuk membelai hasrat lapar serta birahinya .
Semua malaikat di langit menyaksikan , tidak satu hari pun luput dan terlewatkan . tingkah polah Amrul dan sebangsanya yg hanya menuai kerusakan di muka bumi ini . cap tebal di wajah mereka , kaumnya kera purba yg secara harfiah tidak akan pernah bisa di frediksikan sebagai khalifah . dan setelah itu pun , Tuhan menurunkan azabnya yg begitu pedih bagi kaum Amrul dan sebangsanya .
Kian hari hutan menjadi porandah , sebab sumber mata air yg sebelumnya di ceritakan tiba2 saja mengering . Amrul dan sebangsanya mengalami kelaparan yg begitu dahsyat , satu per satu dari mereka mati dalam kebodohan . perlahan hutan itu pun berubah menjadi gurun yg amat sangat gersang , dan akhirnya yg tersisa hanyalah sisa belulang mereka yg terkubur dalam tanah yg begitu dalam .

Tidak ada komentar: