Total Tayangan Halaman

Kamis, 14 Juni 2012

Celeng kerempeng



Burung wik wik bersyair , suaranya terasa mengganggu , arahnya dari sebelah utara . Amir kerempeng duduk di sebuah bale bambu di halaman rumahnya . matanya menyala , di seberang jalan itu lapangan sepak bola hijau teramati .
Amir tidak bersuara , tidak bersuara bukan berarti hatinya diam . tangan itu mengebuk gebuk alas bambu . nada nya berdetak mengiringi detakan jantungnya .
“ duk tak duk tak duk tak duk tak “ bunyi itu menemani Amir yg duduk sendiri .
Terkadang ketukan dan temponya berubah , seperti hati kecilnya yg tidak pernah seorang pun bisa menebak . Beberapa bocah seumur melewati jalan kecil di muka Amir .
“ hey pincang .. sedang apa kamu ?? dasar tukang melamun .. hahahaha .. “  satu di antara bocah bocah yg berjalan itu meneriaki Amir .
“ panggil bapakmu , teriak .. bilang  jika mau buang air kecil .. biar sekalian bapakmu yg memegangi penismu … “ satu bocah lagi di antaranya meledek Amir kerempeng .
Amir hanya diam , dia tidak mengomel , tetapi hati kecil nya sungguh sudah terbakar amarah . sambil tertawa puas , rombongan bocah bocah seumur itu hilang dari pandangan .
Airmata membayangi kelopak mata . tetapi Amir tidak menangis . Amir mungkin sudah terbiasa di ejek , terejek , dan dijadikan bahan ejekan . Amir sedih sekali , Amir masih diam , tetapi yg bisa menggerutu Cuma hatinya .
***
“ terserah Tuhan mau menjadikan saya apa .. terserah Tuhan mau membawa saya kemana .. “
Ungkapan pasrah tersebut sudah tercurah ribuan kali , amir mencoba menegarkan dirinya . ketidak berdayaan serta aniaya psikologis mendasari ungkapan tersebut .
“ salahkah saya , teledorkah saya .. bukankah sepele bagimu Tuhan ??? “
Penyesalan demi penyesalan yg tumpah sudah tidak bisa lagi di hitung tiap harinya . tetapi Tuhan masih memberikannya hidup , entah mengapa , semoga Tuhan punya maksud baik .
***
Masih di bale bambu di halaman rumahnya . sore menjelang , satu persatu bocah dari penjuru kampung mulai berdatangan . mereka mulai sibuk mencari tempat di lapangan .
Sepak bola , dahulu memang , namun tidak lagi sekarang untuk amir . mungkin dahulu pun tidak serapat hari amir bermain , kadang kadang amir menghilang . di saat teman temannya mencari , Amir tidak pernah di ketemukan .
Amir yg pandai menggocek dan menendang kencang sekarang tinggal kenangan . sekarang dia hanya mampu menonton dari bale bambu di halaman rumahnya .
Seorang sahabat berlari menuju Amir , sumringah raut wajahnya . Edi , si bocah keling berkepala botak berhias pitak itu sahabat Amir yg paling dekat . dulu semasih main bersama , saling over dan mengumpan hingga akhirnya mencetak gol adalah mereka .
“ nanti kalau sudah sembuh , kita main sama sama lagi ya .. saya rindu di beri umpan sundul oleh kamu Mir .. “ Edi berkata , kedua tangan nya membejak bejak baju leceknya di bagian perut .
Amir hanya tersenyum , seakan dia sudah melupakan kejadian sebelumnya disaat beberapa bocah mengejek .
“ semangat , kamu pasti akan sembuh .. mungkin suatu saat nanti kamu bisa menjadi pemain sepak bola yg amat terkenal Mir , kamu kan jago sekali mainnya  .. “ Edi berucap sekali lagi .
“ saya tidak mau bermimpi .. saya seperti ini karena mimpi .. mimpi itu pembodohan .. saya tidak akan menjadi seseorang seperti apa yg kamu bilang barusan .. “
“ tapi Mir .. “ belum habis terucap Amir kembali memotong .
“ sudahlah  jangan meng-intimidasi saya dengan harapan kosong .. saya ini cacat .. sudah tiga tahun , tetapi kaki ini malah membusuk .. “ nadanya meninggi , semua berubah seketika , raut wajah , sorot mata , dan expresinya .
Dengan sepasang tongkatnya Amir tertatih menuju rumah . Edi termangu , dan suara burung wik wik itu hilang di sebelah utara .
***
Amir si penyadap getah aren . bocah berambut keriting berkulit gelap itu tengah berada di atas pohon aren . suatu sore , dikebun yg tidak jauh dari belakang rumahnya .
Tangan tangan kecil itu mencengkeram erat batang , kakinya tertatih tatih menyorong badan menuju ke ujung pohon . dia tiba di atas , keringatnya menetes , kulit hitam menjadi kelihatan bercahaya tersorot sinar matahari yg bulatnya sudah tidak utuh dari sebelah barat .
Seperti yg terbiasa dia lakukan , satu dari tiga buah botol pelastik yg tercantum di pinggang nya telah berpindah , di sela batang  daun menadahi tetes demi tetes getah yg tercurah .
Getah menetes , keringatnya banjir . mungkin kini keleknya sudah basah total . si Amir berpikir , “ jika nanti botol botol ini  sudah penuh , aku akan menjual getah sadapan pada tengkulak untuk mendapatkan upah “ .
Amir tersenyum , gigi serinya yg tanggal memberi peluang udara menggenangi rahang . dia masih berada di atas pohon aren tersebut .
Kakinya tidak gemetar menopang , Amir seolah sudah terlatih . “ jika nanti saya dapat upah , akan saya gunakan untuk apa ? “ didalam hati amir kecil timbul pertanyaan .
“ nah , saya mau beli sepasang ayam saja , mungkin cukup .. “ pikirnya menjawab .
“ nanti  sepasang ayam itu akan menghasilkan telur , saya akan menetaskannya .. biar ayam saya menjadi banyak .. “
“ kalau sudah banyak , saya akan membawa ayam ayam itu kepasar .. pasti akan laku terjual .. “ matanya membesar , barisan gigi gigi itu masih dalam intonasi senyuman .
“ dan kalau saya mendapat uang yg agak banyak dari hasil menjual ayam ayam saya tadi , saya mau membeli kambing saja .. saya akan menternaknya .. “
“ kambing kambing itu pasti bakal banyak pula seperti semula saya menetaskan telur telur ayam .. setelah itu saya mau membeli sapi saja .. mungkin harga jualnya akan lebih tinggi dan saya akan memperoleh keuntungan yg besar juga .. “
“ saya kepingin sekali membantu bapak , saya kasihan melihatnya , setiap hari berjibaku dengan palu besar penghantam batu gunung , tetapi upahnya tidak seberapa “
Angin yg membelai leher terabaikan , Amir masih di dalam penantian . saking asiknya Amir menggembalakan khayalannya , dia tidak sadar jika botol yg menadahi tetes getah aren itu sudah luber tercecer .
Beberapa tetes getah menciprati lutut Amir , bangunkan Amir dari lamunannya . belum seutuhnya dia sadar , botol yg luber itu terjatuh dari pangkalan sadap . reflek , tangan kecil mencoba meraihnya . namun apa daya , botol tidak terjangkau , dan si bocah kriting itu serempak ikut jatuh .
Kepala dan kakinya mendarat di atas batu yg bersemayam nyenyak di bawah pohon aren . darah tumpah dijidat , merah di atas palataran kulit hitam .
Amir meraung kesakitan , beberpa warga yg mendengarnya di sekitar menghampiri . si amir di bawa ke klinik darurat di ujung desa pencilnya .
“ tulang kaki nya patah .. mungkin harus di operasi .. “ ungkap sang dokter jaga klinik tersebut kepada orang tua Amir .

Tidak ada komentar: