Total Tayangan Halaman

Senin, 30 April 2012

Kisah si pria angin



Satu pagi , sebuah pijak terhempas setelah lompatnya dari pintu bus malam yg telah mengantarnya sampai di kota ini ( pria itu bernama Cece Zakariyah ) . yg tertatap di seberang jalan besar dua jalur itu adalah sebuah halte bus trans kota , dan sebuah pasar . gegap nafasnya di tarik , bermaksud mengembalikan lega , setelah perjalanan semalaman suntuk tanpa lelapan .
Pagar hijau nan panjang sebuah candi besar di belakangnya pun perlahan di tinggalkan , dia menyebrang , sang kawan yg telah di hubunginya  meminta dia menuju lampu merah perempatan di arah sebelah kanan . mereka berjumpa , sejenak bertegur sapa , lantas sang kawan segera memboncengnya menuju pulang ke rumah .
Sang kawan , lelaki berumur 29 tahun itu bernama Daud Fattah , seorang istri telah menakdirkan keberadaannya di kota ini , sahabat lama sewaktu dia masih berada di kota asalnya . dia bermaksud berlibur di kota ini dengan segenap penasarannya akan kota rantau sang sahabat .
Desa Madurejo , lantas di perempatan pasar Gendeng itu Fattah membelokan laju sepeda motornya menuju ke barat , ini dusun Gangsiran jelasnya .  terhentilah mereka di sebuah toko kelontong pinggir jalan , warung buah di sebelahnya , dan hamparan sawah di seberangnya . istri Fattah pun menyambut permai pertemuan , wanita yg di anugrahi fostur tubuh ga normal itu bernama Arum .
Hari pertama di kota itu di lewatinya dengan istirahat penuh , lelah menjadi alasan , karena sejujurnya bagi Cece perjalanan semalam adalah hal baru yg pernah dia rasakan .
Keesokan hari , kenyataan pun mulai bicara sejujurnya , sebagaimana segala kisah besar yg pernah keluar dari mulut Fattah via cellular itu semakin terkesan ironi . usaha laundry dan toko kelontong itu telah memaku mereka bertetap memperjuangkan keadaan , dari pada halnya segala kisah wisata dan keramaian yg sebenarnya memang ada di kota ini .
 Sendiri lagi2 dia sendiri , itu lebih baik karena dia ga bermaksud mengganggu aktifitas sahabatnya , Sebuah sepeda kumbang tua yg lapuk menganggur di kediaman Fattah Nampak memancing langkahnya untuk mengenal sekitar desa . pamit yg sedikit , lantas penasarannya yg kian mendengung-dengung telah menyalikan dia berkeliling sendiri . terpacu sudah si sepeda tua , ke utara , lurus dan dia mensketsa sebuah putaran mengeliling , hamparan sawah , pohon2 , sungai kecil di tepian jalan , sepeda2 lain yg berlalu lalang , ketiadaan angkutan umum seperti di kota asalnya , dan segala yg memang terasakan kala itu membuatnya ga ingin berhenti mendayuh cerita .
Senja mulai menepi , setelah seharian dia berkeliling mengitari desa . kembalilah dia di rumah sang kawan , walau pun di saat bersepeda tadi dia sempat beberapa kali bertanya pada penduduk tentang alamat dimana harus dia kembali .
Petang pun terlewat dan kini hari telah sedemikian gelap , desa ini terasa begitu sepi , karena halnya di tempat ini semua aktifitas benar2 di lakukan dari pagi yg buta , sehingga malam datang terasa lebih cepat . Fattah yg nampak lelah malam itu tertidur di saat dia dan Arum mulai menghabiskan menit dengan obrolan , ini obrolan pertama mereka setelah sekitar dua hari dia disini , lagi2 aktifitas yg menghalangi , untuk sekedar berdialog panjang lebar antara dia dengan mereka . perbandingan dan perbandingan antara tempat ini dan kota asalnya mulai terpapar . dan semua pertanyaan yg sebelumnya ada mulai hilang dari penasaran .
Dia  yg mengenal Fattah adalah seseorang yg Nampak sukses merantau dari kota asalnya , seseorang yg kadang bicara seolah keadaannya memang lebih dari yg sebenarnya terbayangkan , memang itu bukan alasan utama dia berlibur di tempat ini . fattah semakin lelap dalam keheningan , padahal kenyataan nya di tempat ini mereka adalah penghidup yg susah payah , yg bekerja memutar otak begitu impresif karena harus membiayai kehidupan orang tua nya di kota asal . ya , sertifikat rumah orang tua Fattah yg telah di gadaikan ke sebuah bank menjadi hutang yg harus di tanggung sekian tahun lamanya .
Semuanya ironi , Nampak ga ada satu alasan yg mengharuskan dia menertawai semua ini . hanya saja , seandainya sebuah cerita itu bisa apa adanya mungkin itu lebih bijak . dari pada halnya meninggikan diri dengan kepalsuan yg ga pernah ada sebenarnya .

Tidak ada komentar: