Satu pagi , sebuah pijak terhempas setelah lompatnya dari
pintu bus malam yg telah mengantarnya sampai di kota ini ( pria itu bernama
Cece Zakariyah ) . yg tertatap di seberang jalan besar dua jalur itu adalah
sebuah halte bus trans kota , dan sebuah pasar . gegap nafasnya di tarik ,
bermaksud mengembalikan lega , setelah perjalanan semalaman suntuk tanpa
lelapan .
Pagar hijau nan panjang sebuah candi besar di belakangnya
pun perlahan di tinggalkan , dia menyebrang , sang kawan yg telah di
hubunginya meminta dia menuju lampu
merah perempatan di arah sebelah kanan . mereka berjumpa , sejenak bertegur
sapa , lantas sang kawan segera memboncengnya menuju pulang ke rumah .
Sang kawan , lelaki berumur 29 tahun itu bernama Daud Fattah
, seorang istri telah menakdirkan keberadaannya di kota ini , sahabat lama
sewaktu dia masih berada di kota asalnya . dia bermaksud berlibur di kota ini
dengan segenap penasarannya akan kota rantau sang sahabat .
Desa Madurejo , lantas di perempatan pasar Gendeng itu
Fattah membelokan laju sepeda motornya menuju ke barat , ini dusun Gangsiran jelasnya .
terhentilah mereka di sebuah toko kelontong pinggir jalan , warung buah
di sebelahnya , dan hamparan sawah di seberangnya . istri Fattah pun menyambut
permai pertemuan , wanita yg di anugrahi fostur tubuh ga normal itu bernama
Arum .
Hari pertama di kota itu di lewatinya dengan istirahat penuh
, lelah menjadi alasan , karena sejujurnya bagi Cece perjalanan semalam adalah
hal baru yg pernah dia rasakan .
Keesokan hari , kenyataan pun mulai bicara sejujurnya ,
sebagaimana segala kisah besar yg pernah keluar dari mulut Fattah via cellular
itu semakin terkesan ironi . usaha laundry dan toko kelontong itu telah memaku
mereka bertetap memperjuangkan keadaan , dari pada halnya segala kisah wisata
dan keramaian yg sebenarnya memang ada di kota ini .
Sendiri lagi2 dia
sendiri , itu lebih baik karena dia ga bermaksud mengganggu aktifitas
sahabatnya , Sebuah sepeda kumbang tua yg lapuk menganggur di kediaman Fattah
Nampak memancing langkahnya untuk mengenal sekitar desa . pamit yg sedikit ,
lantas penasarannya yg kian mendengung-dengung telah menyalikan dia berkeliling
sendiri . terpacu sudah si sepeda tua , ke utara , lurus dan dia mensketsa
sebuah putaran mengeliling , hamparan sawah , pohon2 , sungai kecil di tepian
jalan , sepeda2 lain yg berlalu lalang , ketiadaan angkutan umum seperti di
kota asalnya , dan segala yg memang terasakan kala itu membuatnya ga ingin
berhenti mendayuh cerita .
Senja mulai menepi , setelah seharian dia berkeliling
mengitari desa . kembalilah dia di rumah sang kawan , walau pun di saat
bersepeda tadi dia sempat beberapa kali bertanya pada penduduk tentang alamat
dimana harus dia kembali .
Petang pun terlewat dan kini hari telah sedemikian gelap , desa
ini terasa begitu sepi , karena halnya di tempat ini semua aktifitas benar2 di
lakukan dari pagi yg buta , sehingga malam datang terasa lebih cepat . Fattah
yg nampak lelah malam itu tertidur di saat dia dan Arum mulai menghabiskan
menit dengan obrolan , ini obrolan pertama mereka setelah sekitar dua hari dia
disini , lagi2 aktifitas yg menghalangi , untuk sekedar berdialog panjang lebar
antara dia dengan mereka . perbandingan dan perbandingan antara tempat ini dan
kota asalnya mulai terpapar . dan semua pertanyaan yg sebelumnya ada mulai
hilang dari penasaran .
Dia yg mengenal
Fattah adalah seseorang yg Nampak sukses merantau dari kota asalnya , seseorang
yg kadang bicara seolah keadaannya memang lebih dari yg sebenarnya terbayangkan
, memang itu bukan alasan utama dia berlibur di tempat ini . fattah semakin
lelap dalam keheningan , padahal kenyataan nya di tempat ini mereka adalah
penghidup yg susah payah , yg bekerja memutar otak begitu impresif karena harus
membiayai kehidupan orang tua nya di kota asal . ya , sertifikat rumah orang
tua Fattah yg telah di gadaikan ke sebuah bank menjadi hutang yg harus di
tanggung sekian tahun lamanya .
Semuanya ironi , Nampak ga ada satu alasan yg mengharuskan
dia menertawai semua ini . hanya saja , seandainya sebuah cerita itu bisa apa
adanya mungkin itu lebih bijak . dari pada halnya meninggikan diri dengan
kepalsuan yg ga pernah ada sebenarnya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar