Total Tayangan Halaman

Selasa, 07 Februari 2012

Wajah penuh Personifikasi


Pangeran , buruk rupa , juga ga ada kuda putihnya . entahlah manusia macam apa dia ini , jika seandainya orang2 di seberang jalan besar sana menilainya baik pun , yg ada dia malah tertawa , mengapa , karena yg dia tau orang2 yg pernah mengenalnya lebih dekat pasti bilang kalau dia itu aneh , bukan baik .
Terkadang dia begitu lugas , dia berbicara enteng , ringan , lebih ringan dari pada sehelai oksigen . tetapi dia pula yg terkadang berbicara begitu sulit , begitu getir , dan seolah begitu dramatis . dia ga pernah berharap kalian mengerti , sedikit pun , dan walau hanya setitik .  karena ini bukan cita2 , tetapi sisi lain yg akan terus hidup selama bernafasnya tirani .
Dia mencoba berpikir cerdas , cerdas bukan dalam arti bawaan lahir , karena dia sama sekali ga pernah merasa seperti itu . melainkan sebuah pemikiran yg ga hanya mementingkan diri sendiri , seperti kebanyakan manusia yg terkadang berpikir kalau dirinya benar , semuanya ceritanya benar , dan orang lain beserta ceritanya adalah salah .
Setiap orang punya problem , dan kemudian hal tersebut memicu diri berkeinginan untuk di mengerti , tetapi lihatlah , memang belum pernah ada satuan yg di jadikan tolak ukur untuk muatan problem itu sendiri , mengalah sedikit mungkin lebih bijak , dari pada halnya diam dan sekalinya bicara adalah marah ( seperti kepala2 di rumahnya ) .
Dia tertawa , dalam personifikasinya yg begitu dalam , kemudian dia berkata “ dia itu bukan aku ( penulis ) , atau aku itu bukan dia ( penulis ) “ , maka sadarilah wajah yg sedemikian fiktip ini , yg begitu amat menorehkan ilustrasi untuk menyembunyikan setiap arti dari kata2 yg tercipta . dimana arti yg termaksud itu ga akan pernah kalian dapati dari karakternya , tetapi dari  dia yg bukanlah aku , atau aku yg bukanlah dia .

Tidak ada komentar: