Total Tayangan Halaman

Kamis, 11 Agustus 2011

Kisah si pemindai karet

Dan sebuah pertanyaan pun datang , " kenapa engkau berada disini ? "

Menatap hitam di atas hitam , selingkaran dan seutuhnya hitam . mencari luka , cacat , sampah , udara dan yg ga seharusnya ada . garis warna , muka serta bentuk di antara hitam pula , agar keseluruhannya memang nampak dapat seharap hitam yg sempurna .
Aku bukan mereka ( kaum putus asa ) , seperti saat sehelai baju kau alaskan di kepala , seperti saat sang cangkul dengan tumpulnya kau hempaskan di atas tanah yg tandus , seperti saat keringat gemetar dari kurusmu itu jatuh menjadi aksara yg pilu terbaca .

Bukan sekedar mencari uang , tapi mencari kehidupan . tapi lihat , mereka pun mencari dan kemudian tersesat . itu karena mereka ga pernah bertemu arti sebenarnya kehidupan . dunia di luar sana memang begitu gemerlap , maka haruskah aku seperti mereka , mereka yg tersesat di dalam pencariannya . atau malah aku akan tetap bertahan saat penjara waktu semakin amat menjeratku .
Lantas apa yg kau cari , maka aku akan menjawab " do'a ibu " . dan jika engkau melanjutkannya , maka akan ku jawab " tanya saja pada ibu " . haruskah kita berbicara mistis , sementara yg terharap yakni keadaan yg realistis . bahkan berjanji pun aku ga mampu , karena aku ga dan ga pernah mau mengecewakan .

Ini sebuah dunia , dunia yg mataharinya hanya sekedar cilukba' . ini sebuah dunia , dimana para penghuninya seolah lupa telah bermimpi apa semalam . impian kosong tentang hidayah seperti yg mereka pikirkan , mereka ( kaum putus asa ) . disaat nanti , mungkin nanti , dan walau pun nanti di beberapa nafas menjelang akhir di muka bumi ini . sebuah mimpi , disaat mereka dapat menemui arti sebuah kehidupan .

2 komentar:

Unknown mengatakan...

mani sararieun teuing macana ogen,,,,,,,

Unknown mengatakan...

thanksss