Kota-kota itu pun lantas sembunyikan para desa yg terhina , kami seolah ga punya bahasa untuk bicara , sebias denting telinga kiri yg menjadi sunyi , " oh inspirasi , kemanakah engkau berlari ? " kami haraf datanglah dan temani .
Kemudian deretan huruf-huruf itu harus mengantri dengan sabarnya , berbaris menuju lantunan keindahan yg ga pernah terpikirkan , mencoba menerawang tapi ga nampak , mencoba memaksa namun ga kuasa , dan kami menulis sesuatu lagi yg sebenarnya ga mau kami tulis .
Pernah kami memilih , tuk mengubur dan menutup rapat sebuah cerita dalam lubang keterasingan , namun telah nampak mereka kembali , kekosongan , sesutu yg nampak sama , dan semua itu nampak sama .
Ya_ saat misterius itu membuat kaw bertanya , kami haraf kami ga pernah ada , sementara kenal yg kita temukan terasa menjemukan , kami ga menginginkan kaw ada , biarlah kami sendiri mengungkap rasa .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar