Tanah ini memang berubah , rumah-rumah disekeliling rumah kami pun kian menguruskan setapak jalan , dan kemudian gersang itu saling berpantul di lantai bumi yg belakangan ini kian mengeraz .
Kami lahir di masa ini , ga di besarkan sebagai sejarah , tetapi di dalam sebuah realita ,
" ga tau darimana semua bermuasal , bahkan sampai saat ini pun kami ga pernah bertatapan langsung dengan dia (novel sang guru ) " , jawab kami jika engkaw memang menanyakan'a .
Yg kami temukan hanyalah sebuah deskripsi , sebuah kalimat singkat yg berbunyi " kesederhanaan hidup untuk sebuah kebahagiaan ."
Yapz , sejenak kami berpikir , " kami bukan seseorang yg memulai satu kisah di perkumpulan pemuda2 sastra , bukan seseorg yg terkadang bertukar cerita tentang seni yg fiktip atau lain'a , bukan pula seseorang yg kian berambisi mengabdikan diri untuk beribu karya2 hitam di atas putih "
kami hanyalah kami , dengan sebatas ilmu dan perjalanan kami , manusia yg memang fana , tetapi kami tau karya ga akan mati terhapus oleh masa , karena bagi kami menulis tuh seperti sebutir opium , mensugestikan rileks di setiap pembuluh darah , karena terkadang ga satu pun kawan yg dapat memahami apa yg sedang kami pikirkan dan apa yg sedang kami rasakan .
Yg pasti , kami bukan " BEN " yg di setiap hiruf nafas'a di penuhi oleh norma2 ,, lagipula ternaté-maluku hanya ada didalam otak , namun sang guru telah bercerita , dan " sang guru " bukan sekedar sejarah klasik ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar