Total Tayangan Halaman

Rabu, 11 Januari 2012

Camar linglung dan sangkar2 tanpa daun pintu .



    Sepertiga awal meningginya mentari kian redup terselubung gerombolan awan dan awan . kemudian gerimis , dan sesekali langit pun menggemuruhkan bunyi2an khasnya . sebuah bulan , dimana hujan  menjadi agenda rutin di setiap harinya . seekor camar pun masih terdiam di sudut sembilu , menunggu reda untuk kembali terbang kearah tuju nya .
    Di sudut sembilu , camar itu ga sendiri , beberapa burung lain , dan bersama penantiannya , camar tersebut menatapi sekeliling . pemandangan redup yg melahirkan pertanyaan di dalam benak si camar . ketika situasinya adalah tatap2 kosong dan kebengongan di antara burung2 lain yg tersaksikan .
   Seekor camar tua di sebelah sudutnya pun seperti paham atas apa yg menjadi pertanyaan , dan dia berkata “ mereka menatap kosong tanpa ada yg terpikirkan , memang begitu , seperti itu , dan perilaku bawaan lahir itu akan tetap bergulir , seiring terjadinya siklus rotasi 24 jam yg ga pernah terselesaikan “ .
   Sang camar pun tersenyum , langit nampak meredakan gemercik tetes2 gerimisnya . dan kemudian kerumun penantian hujan pun terbubarkan , camar pun terbang , memisahkan tuju , untuk segera pulang menuju sarang .
   Sesampainya di sarang , dan semua kelelahannya di perjalanan memaksa mata sang camar kembali menuju pejam peristirahatan . sang camar seketika lelap , sebuah sarang yg aneh nampak menyembunyikan  camar malas itu dari dunia yg sebenarnya ,
   Di dalam tidur , sang camar bermimpi tentang masa lampaunya , di saat dia tengah berkeliaran diantara sangkar2 tanpa daun pintu lalu . itu masa lampau , dan sebagian sangkar2 itu memanglah berbahan emas dan keindahan . senyatanya sangkar2 tersebut berdiri di ujung tiang2 yg teratur rapih di sebuah halaman yg lebih nampak seperti tanah lapang .
   Di masa keberadaannya di salah satu sangkar tersebut , yg mencolok yakni sebuah kompetisi terrumuskan , dan kicauan merdu para burung2 penyair di lain2 sangkar lebih Nampak seperti hempasan bumerang yg memburu setiap kelemahan . sangkar kayu , sangkar emas , padahal berada di antara sangkar2 tersebut hanyalah terbayar serupa jagung2an penyambung nyawa . dan padahal pula sangkar2 tersebut memanglah tanpa dedaunan pintu , yg membentuk sebuah pola kebebasan untuk tetap tinggal atau pergi dan ga pernah kembali .
   Bukan satu sangkar saja , tetapi beberapa telah sang camar jamah . dan di setiap keberadaannya tersebut dia merasakan ketidak nyamanan amat . sangkar memanglah Nampak mewah , sangkar memanglah tampak begitu indah , dan sangkar memanglah Nampak begitu megah . ini sungguh ironi sangat  , jika di banding kan dengan burung2 lain yg ga pernah mendapatkan giliran mencicipi teduh di antara sangkar2 tersebut .
   Sang camar pun melampiaskan kegelisahannya , satu alasan , atau mungkin ada alasan lain yg ga pernah mau dia ceritakan . sang camar pun pergi tinggalkan sangkar2 yg penuh hinar tersebut . tanpa bicara banyak , dan tanpa alasan sangat .
   Sang camar pun terbangun dari tidurnya , sebuah sarang memalukan kini , dimana jika di jabarkan secara psikologis , yg Nampak membangun sarang tersebut adalah komposisi dari rumus2  depresi , frustasi , impresi , dan erosi otak sebelah kiri . sang camar pun ga membalasnya , ketika mereka , burung2 lain itu bertanya ada apa  .

Tidak ada komentar: