Sepertiga awal meningginya mentari
kian redup terselubung gerombolan awan dan awan . kemudian gerimis , dan
sesekali langit pun menggemuruhkan bunyi2an khasnya . sebuah bulan , dimana
hujan menjadi agenda rutin di setiap
harinya . seekor camar pun masih terdiam di sudut sembilu , menunggu reda untuk
kembali terbang kearah tuju nya .
Di sudut sembilu , camar itu ga
sendiri , beberapa burung lain , dan bersama penantiannya , camar tersebut
menatapi sekeliling . pemandangan redup yg melahirkan pertanyaan di dalam benak
si camar . ketika situasinya adalah tatap2 kosong dan kebengongan di antara
burung2 lain yg tersaksikan .
Seekor camar tua di sebelah
sudutnya pun seperti paham atas apa yg menjadi pertanyaan , dan dia berkata “ mereka menatap kosong tanpa ada yg
terpikirkan , memang begitu , seperti itu , dan perilaku bawaan lahir itu akan
tetap bergulir , seiring terjadinya siklus rotasi 24 jam yg ga pernah
terselesaikan “ .
Sang camar pun tersenyum , langit
nampak meredakan gemercik tetes2 gerimisnya . dan kemudian kerumun penantian
hujan pun terbubarkan , camar pun terbang , memisahkan tuju , untuk segera
pulang menuju sarang .
Sesampainya di sarang , dan semua
kelelahannya di perjalanan memaksa mata sang camar kembali menuju pejam
peristirahatan . sang camar seketika lelap , sebuah sarang yg aneh nampak
menyembunyikan camar malas itu dari
dunia yg sebenarnya ,
Di dalam tidur , sang camar
bermimpi tentang masa lampaunya , di saat dia tengah berkeliaran diantara
sangkar2 tanpa daun pintu lalu . itu masa lampau , dan sebagian sangkar2 itu
memanglah berbahan emas dan keindahan . senyatanya sangkar2 tersebut berdiri di
ujung tiang2 yg teratur rapih di sebuah halaman yg lebih nampak seperti tanah
lapang .
Di masa keberadaannya di salah satu
sangkar tersebut , yg mencolok yakni sebuah kompetisi terrumuskan , dan kicauan
merdu para burung2 penyair di lain2 sangkar lebih Nampak seperti hempasan
bumerang yg memburu setiap kelemahan . sangkar kayu , sangkar emas , padahal
berada di antara sangkar2 tersebut hanyalah terbayar serupa jagung2an penyambung
nyawa . dan padahal pula sangkar2 tersebut memanglah tanpa dedaunan pintu , yg
membentuk sebuah pola kebebasan untuk tetap tinggal atau pergi dan ga pernah
kembali .
Bukan satu sangkar saja , tetapi
beberapa telah sang camar jamah . dan di setiap keberadaannya tersebut dia
merasakan ketidak nyamanan amat . sangkar memanglah Nampak mewah , sangkar
memanglah tampak begitu indah , dan sangkar memanglah Nampak begitu megah . ini
sungguh ironi sangat , jika di banding
kan dengan burung2 lain yg ga pernah mendapatkan giliran mencicipi teduh di
antara sangkar2 tersebut .
Sang camar pun melampiaskan
kegelisahannya , satu alasan , atau mungkin ada alasan lain yg ga pernah mau
dia ceritakan . sang camar pun pergi tinggalkan sangkar2 yg penuh hinar
tersebut . tanpa bicara banyak , dan tanpa alasan sangat .
Sang camar pun terbangun dari
tidurnya , sebuah sarang memalukan kini , dimana jika di jabarkan secara
psikologis , yg Nampak membangun sarang tersebut adalah komposisi dari rumus2 depresi , frustasi , impresi , dan erosi otak
sebelah kiri . sang camar pun ga membalasnya , ketika mereka , burung2 lain itu
bertanya ada apa .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar