Dua jarum Jam dinding itu pun terus berkejaran , malam semakin
larut , di saat penantian pejam itu aku teringat dongeng ibu ku sewaktu aku
kanak . entah dongeng ini berasal
darimana , bahkan keasliannya pun ga pernah kunjung dalam penjelasan .
Alkisah, pada zaman dahulu kala , di sebuah desa terpencil
tinggallah sepasang suami istri , ibuku bilang sebut saja keluarga tersebut
dengan sebutan bapak dan ibu Ruslan . mereka tinggal di sebuah rumah dalam
keadaan tempo dulu , mereka adalah salah satu keluarga berada di desa tersebut
. namun zaman , sementara di masa itu lantai rumah masih lah serupa tanah .
Saat itu , sebuah malam yg setengah larut , di ceritakan
jika ibu Ruslan tengah hamil tua dan hendak melahirkan . ini anak pertama
mereka , seorang dukun beranak telah tiba beriring jemputnya pak Ruslan yg
seketika . proses kelahiran pun mengguliri saat-saat , dan di lain kesempatan ,
bersama ketidak tahuannya tentang ada kejadian apa didalam rumah , seseorang
tengah menggali lorong di bawah tembok rumah pak Ruslan .
Maksud hatinya dimana lelaki tersebut berhendak menyusup
dari bawah tanah , masuk di dalam rumah , dan melakuan I’tikad curi . lelaki
tersebut bernama Abraham Paw , lelaki yg belum terlalu tua itu pun ga menghentikan
penggaliannya .
Lorong belum menemui ujungnya , Abraham masih di bawah tanah
bersama lelampuan temaram . dan si
cabang bayi itu pun lahir dari rahim Ibu Ruslan . kala itu sebuah dialog misterius
menghampiri Abraham seorang dari dalam tanah , dialog tersebut berbunyi “ wahai
umat , telah engkau di hidupkan , maka kelak engkau akan di matikan , kemudian
seperti apa kematianmu gerang ? “ . lantas terdengar lirih suara dua
menjawab , “ maka matikan saya kelak
tergigit ular seusai pernikahan saya nanti “ .
Abraham pun tercengang mendengar percakapan tersebut ,
sebuah dialog singkat yg memaksa keringat itu mengucur dengan derasnya .
Abraham membatalkan niat curinya , percaya ga percaya dia naik ke permukaan ,
menghela nafas panjang , dan terus meyakinkan diri atas apa yg baru saja di
dengarnya .
Keesokan hari , Abraham bertamu ke rumah keluarga Ruslan
dengan maksud hati ingin mempersaudara kan diri , al sebab di dalam benak
terpikir dia hendak membuktikan kebenaran dialog misterius yg di dengarnya
semalam . singkat cerita , niat mempersaudarakan diri pun tersambut tanpa
perasaan curiga dari keluarga Ruslan .
Dua puluh satu tahun pun berlalu cepat , si cabang bayi pun anjak
dalam dewasa , dia seorang pria bernama Malik Meitinha . waktu seperti di pacu di
dalam fhase ini , dan inilah beberapa hari sebelum hari pernikahannya . Abraham
Paw yg seiring lekang telah menjadi seolah paman dari Malik pun sudah menunggu
saat2 seperti ini lampau .
Dan tibalah Malik di hari pernikahannya , hari itu berjalan
normal dalam pandangan Malik , tetapi semenjak mentari itu muncul di ufuk timur
, Abraham tengah seratus persen
mengawasi Malik dalam setiap keberadaannya . dan akhirnya setelah ijab kobul
terlaksana , setiba2nya seekor ular berbisa itu muncul mendekati Malik ,
beberapa detik mungkin , sebelum ular itu menggigit , sebilah parang telah membelah
ular tersebut menjadi dua bagian , yg melakukan hal itu yakni Abraham , yg
memang dalam setianya menanti saat2 seperti yg pernah dia dengar dahulu , dari
bawah tanah saat Malik di lahirkan di suatu malam .
Abraham pun tercengang , dan semua orang di dalam keramaian
pesta pun terkejut tentang kejadian itu
. Abraham serasa ga percaya , masih , di dalam benaknya dia berkata “ ternyata dialog tersebut benarlah nyata ,
maka siapakah mereka , yg mencakapkan dialog tersebut dahulu “. Abraham
berpikir dan terus berpikir , dan akhirnya dia menarik kesimpulan jika dialog
tersebut memang di antara umat dan sang penciptanya .
Ular tersebut pun di kubur di belakang rumah keluarga Ruslan
. tepat satu minggu setelah kejadian itu , Malik tanpa sengaja melintas di
belakang rumahnya , dan di saat itu pula terlangkahilah kubur si ular dalam
ketidak sadarannya . dan di saat itu pula Malik tiba2 terjatuh dan dia ga bernyawa
lagi .
Abraham yg menemukan Malik dalam keadaannya yg sudah ga
bernyawa pun menangis , dia menatap
langit , dia meremas segumpal tanah di hadapan tekuk lututnya , dan di sana dia
berkesimpulan jika kematian memang sudah di tuliskan , dan apa yg sesungguhnya
telah tertuliskan ga akan pernah ter’elakan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar