Total Tayangan Halaman

Jumat, 06 Januari 2012

Misteri dan takdir dalam tulisan



  Dua jarum Jam dinding itu pun terus berkejaran , malam semakin larut , di saat penantian pejam itu aku teringat dongeng ibu ku sewaktu aku kanak .  entah dongeng ini berasal darimana , bahkan keasliannya pun ga pernah kunjung dalam penjelasan .

  Alkisah, pada zaman dahulu kala , di sebuah desa terpencil tinggallah sepasang suami istri , ibuku bilang sebut saja keluarga tersebut dengan sebutan bapak dan ibu Ruslan . mereka tinggal di sebuah rumah dalam keadaan tempo dulu , mereka adalah salah satu keluarga berada di desa tersebut . namun zaman , sementara di masa itu lantai rumah masih lah serupa tanah .

  Saat itu , sebuah malam yg setengah larut , di ceritakan jika ibu Ruslan tengah hamil tua dan hendak melahirkan . ini anak pertama mereka , seorang dukun beranak telah tiba beriring jemputnya pak Ruslan yg seketika . proses kelahiran pun mengguliri saat-saat , dan di lain kesempatan , bersama ketidak tahuannya tentang ada kejadian apa didalam rumah , seseorang tengah menggali lorong di bawah tembok rumah pak Ruslan .

  Maksud hatinya dimana lelaki tersebut berhendak menyusup dari bawah tanah , masuk di dalam rumah , dan melakuan I’tikad curi . lelaki tersebut bernama Abraham Paw , lelaki yg belum terlalu tua itu pun ga menghentikan penggaliannya .

  Lorong belum menemui ujungnya , Abraham masih di bawah tanah bersama lelampuan temaram  . dan si cabang bayi itu pun lahir dari rahim Ibu Ruslan . kala itu sebuah dialog misterius menghampiri Abraham seorang dari dalam tanah , dialog tersebut berbunyi  “ wahai umat , telah engkau di hidupkan , maka kelak engkau akan di matikan , kemudian seperti apa kematianmu gerang ? “ . lantas terdengar lirih suara dua menjawab , “ maka matikan saya kelak tergigit ular seusai pernikahan saya nanti “ .

  Abraham pun tercengang mendengar percakapan tersebut , sebuah dialog singkat yg memaksa keringat itu mengucur dengan derasnya . Abraham membatalkan niat curinya , percaya ga percaya dia naik ke permukaan , menghela nafas panjang , dan terus meyakinkan diri atas apa yg baru saja di dengarnya .

  Keesokan hari , Abraham bertamu ke rumah keluarga Ruslan dengan maksud hati ingin mempersaudara kan diri , al sebab di dalam benak terpikir dia hendak membuktikan kebenaran dialog misterius yg di dengarnya semalam . singkat cerita , niat mempersaudarakan diri pun tersambut tanpa perasaan curiga dari keluarga Ruslan .

  Dua puluh satu tahun pun berlalu cepat , si cabang bayi pun anjak dalam dewasa , dia seorang pria bernama Malik Meitinha . waktu seperti di pacu di dalam fhase ini , dan inilah beberapa hari sebelum hari pernikahannya . Abraham Paw yg seiring lekang telah menjadi seolah paman dari Malik pun sudah menunggu saat2 seperti ini lampau .

  Dan tibalah Malik di hari pernikahannya , hari itu berjalan normal dalam pandangan Malik , tetapi semenjak mentari itu muncul di ufuk timur , Abraham  tengah seratus persen mengawasi Malik dalam setiap keberadaannya . dan akhirnya setelah ijab kobul terlaksana , setiba2nya seekor ular berbisa itu muncul mendekati Malik , beberapa detik mungkin , sebelum ular itu menggigit , sebilah parang telah membelah ular tersebut menjadi dua bagian , yg melakukan hal itu yakni Abraham , yg memang dalam setianya menanti saat2 seperti yg pernah dia dengar dahulu , dari bawah tanah saat Malik di lahirkan di suatu malam .

  Abraham pun tercengang , dan semua orang di dalam keramaian pesta pun terkejut tentang  kejadian itu . Abraham serasa ga percaya , masih , di dalam benaknya dia berkata “ ternyata dialog tersebut benarlah nyata , maka siapakah mereka , yg mencakapkan dialog tersebut dahulu “. Abraham berpikir dan terus berpikir , dan akhirnya dia menarik kesimpulan jika dialog tersebut memang di antara umat dan sang penciptanya .

  Ular tersebut pun di kubur di belakang rumah keluarga Ruslan . tepat satu minggu setelah kejadian itu , Malik tanpa sengaja melintas di belakang rumahnya , dan di saat itu pula terlangkahilah kubur si ular dalam ketidak sadarannya . dan di saat itu pula Malik tiba2 terjatuh dan dia ga bernyawa lagi .

  Abraham yg menemukan Malik dalam keadaannya yg sudah ga bernyawa  pun menangis , dia menatap langit , dia meremas segumpal tanah di hadapan tekuk lututnya , dan di sana dia berkesimpulan jika kematian memang sudah di tuliskan , dan apa yg sesungguhnya telah tertuliskan ga akan pernah ter’elakan .

Tidak ada komentar: