Setiap waktu engkau
tersenyum ,
sudut matamu
memancarkan rasa ,
keresahan yg terbenam , kerinduan yg tertahan ,
duka dalam yg tersembunyi , jauh di lubuk hati ,
kata2 mu riuh
mengalir bagai gerimis .
Seperti angin ta’ pernah
diam ,
selalu beranjak
setiap saat ,
menebarkan jala asmara , menaburkan aroma luka ,
benih kebencian kau tanam , bakar ladang gersang ,
entah sampai kapan
berhenti menipu diri .
Kupu2 kertas yg
terbang kian kemari ,
aneka rupa dan warna , di bias lampu temaram .
Membasuh debu yg lekat dalam jiwa ,
mencuci bersih dari segala kekotoran .
Aku menunggu hujan turun lah , aku berharap badai datang lah
.
gemuruhnya akan melumatkan semua , kupu2 kertas .
“ setiap insan punya
problem ( keinginan ) , tetapi terkadang dalam sekilas pandang biasa , semua
problem itu memang ga pernah Nampak , dan ga ternampakan . dan keinginan tersebut kian memicu konflik di dalam diri
sendiri “
“ kupu2 kertas ,
laksana keinginan semu duniawi yg ga pernah ada habisnya , dan semua keindahan
yg ga akan terjangkau oleh kata2 puas “
“ berharap ada sebuah peredam , penyadar ,atau pengingat , seperti hujan dan badai yg pada
akhinya memberi kesejukan batiniah dari segala problem ( keinginan ) “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar